• Minggu, 04 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Pemkab Berau



Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas saat meninjau persemaian UPT Pertanian Kecamatan Sambaliung, Sabtu (3/10/2026).(Foto: Bul/KutaiRaya.com)


BERAU, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Berau terus memperkuat pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek ekonomi. Penguatan dilakukan mulai dari penyediaan bibit, perluasan areal tanam hingga pendampingan kepada petani untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyiapkan 200 ribu bibit kakao untuk disalurkan kepada delapan kelompok tani yang tersebar di enam kampung sentra kakao. Bibit tersebut diproyeksikan untuk mendukung pengembangan perkebunan kakao pada areal seluas 200 hektare.

Kesiapan bibit tersebut ditinjau langsung Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, di lokasi persemaian UPT Pertanian Kecamatan Sambaliung, Sabtu (3/10/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kualitas dan kesiapan bibit sebelum didistribusikan kepada kelompok tani.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan dukungan bibit tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan Pemkab Berau kepada Kementerian Pertanian. Usulan itu disampaikan saat dirinya bertemu Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).

“Ini upaya kami yang langsung mengusulkan kepada Kementerian Pertanian dan alhamdulillah bantuan untuk 200 hektare ini telah siap disalurkan,” ungkap Sri Juniarsih.

Menurutnya, kakao menjadi salah satu komoditas yang terus dikembangkan karena Berau memiliki kondisi lahan yang mendukung budidaya. Di sisi lain, hasil kakao dari Bumi Batiwakkal juga telah memiliki pasar hingga ke luar negeri.

Karena itu, dukungan pemerintah tidak hanya diarahkan pada penambahan luas areal perkebunan, tetapi juga peningkatan kualitas produksi sehingga kakao Berau mampu memiliki daya saing lebih luas.

“Berau dengan kultur tanahnya sangat cocok untuk budidaya kakao. Tentu kita ingin produksi cokelat dari Berau semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun internasional,” jelasnya.

Sri Juniarsih berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani. Menurutnya, pengembangan kakao yang dilakukan secara baik akan membuka peluang peningkatan pendapatan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di sentra perkebunan.

Pemkab Berau juga memastikan pendampingan akan terus diberikan melalui perangkat daerah terkait dan tenaga penyuluh. Dukungan lanjutan berupa pupuk maupun tambahan bibit juga akan diupayakan untuk memperluas areal pengembangan kakao.

“Kita akan terus memberikan pendampingan, termasuk mengusulkan bantuan pupuk dan tambahan bibit untuk perluasan areal tanam,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, menjelaskan lebih teknis mengenai program tersebut. Dari total 200 ribu bibit yang disiapkan, kebutuhan penanaman dihitung sekitar 1.000 bibit untuk setiap hektare lahan.

Dengan perhitungan tersebut, 200 ribu bibit akan digunakan untuk mendukung pengembangan kakao pada lahan seluas 200 hektare. Penyaluran dilakukan secara bertahap kepada delapan kelompok tani yang berada di enam kampung sentra kakao.

“Untuk kebutuhannya sekitar 1.000 bibit per hektare. Jadi untuk target 200 hektare, bibit yang disiapkan sebanyak 200 ribu,” terang Lita.

Menurut Lita, distribusi bibit merupakan tahap awal dari rangkaian pengembangan kakao. Setelah bibit diterima, petani tetap membutuhkan pendampingan agar penanaman dan pemeliharaan dilakukan sesuai teknis budidaya.

Pendampingan tersebut mencakup proses awal penanaman hingga perawatan tanaman. Sebab, produktivitas kebun nantinya tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga pemeliharaan tanaman dan pengelolaan kebun oleh petani.

Selain aspek budidaya, Lita melihat kakao memiliki peluang ekonomi yang cukup besar bagi petani. Saat ini, harga kakao kering dapat mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram, meski harga yang diterima petani tetap dipengaruhi kualitas dan kondisi pasar.

“Harga jual saat ini bisa tembus Rp180 ribu per kilogram kakao kering,” katanya.

Potensi nilai jual tersebut menjadi salah satu peluang yang ingin dikembangkan pemerintah daerah melalui peningkatan produksi sekaligus kualitas kakao. Penguatan pada tahap budidaya dan pascapanen menjadi penting agar hasil yang diperoleh petani memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

DTPHP Berau bersama perangkat daerah terkait juga akan terus memberikan pendampingan kepada petani. Pemerintah daerah turut mengupayakan dukungan sarana produksi, termasuk bantuan pupuk serta tambahan bibit untuk memperluas kawasan pengembangan kakao.

“Dukungan lanjutan berupa pupuk dan tambahan bibit akan terus kami upayakan untuk memperluas areal pengembangan kakao,” pungkasnya. (Adv/Bul)



Pasang Iklan
Top