
Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kota Balikpapan masih terjadi di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan mencatat lebih dari 50 kejadian kebakaran lahan sejak Agustus 2026 hingga saat ini. Bahkan, titik baru bermunculan.
Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali mengatakan, titik-titik baru masih bermunculan, terutama di wilayah Balikpapan Barat, Timur, dan Selatan. Bahkan, di wilayah Timur, kejadian kebakaran dapat mencapai enam titik dalam sehari.
“Untuk saat ini berdasarkan data sudah lebih dari 50 kali kebakaran lahan sejak Agustus sampai sekarang,” kata Usman, pada hari Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, kebakaran terjadi di lokasi yang berbeda dengan luasan yang bervariasi. Beberapa kejadian bahkan membakar lahan hingga sekitar dua sampai empat hektare.
Salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla adalah kondisi medan. Sejumlah titik kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam maupun kendaraan pembawa air.
“Medannya cukup berat karena kadang-kadang tidak bisa dilewati kendaraan roda enam atau yang membawa air. Akhirnya kita agak kesulitan,” ujarnya.
Kondisi angin juga menjadi tantangan bagi petugas. Api yang telah dipadamkan dapat kembali muncul ketika angin bertiup kencang, sementara penanganan secara manual menggunakan alat pemukul api dinilai tidak selalu efektif.
“Kalaupun kita pakai gebuk api, kadang-kadang tidak maksimal. Begitu angin kencang, akan muncul lagi apinya,” jelas Usman.
Ia mengatakan, sebagian titik kebakaran baru kerap ditemukan bermula dari sisi jalan sebelum merambat ke bagian dalam lahan. BPBD mengindikasikan aktivitas manusia dapat menjadi salah satu faktor pemicu, meski penyebab pasti setiap kejadian tetap memerlukan pemeriksaan di lapangan.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran di sekitar lahan tanpa pengawasan.
“Kami mengimbau kepada masyarakat supaya tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dan bisa memicu kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Di tengah tingginya frekuensi kejadian, BPBD memperkuat penanganan dengan melibatkan berbagai pihak. Selain personel BPBD, pemadaman dilakukan melalui koordinasi dengan TNI-Polri serta perusahaan yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Dukungan perusahaan terutama dibutuhkan ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau atau terjadi di beberapa titik secara bersamaan.
Di wilayah Timur, sejumlah perusahaan membantu menyediakan pasokan air meski tidak memiliki kendaraan pemadam. Sementara di wilayah Barat, termasuk kawasan Kariangau Kilometer 13, perusahaan yang memiliki mobil pemadam turut membantu proses penanganan.
“Di wilayah Timur dibantu perusahaan-perusahaan yang ada di sana. Walaupun mereka tidak punya mobil, mereka siap menyediakan air. Kalau wilayah Barat seperti Kariangau KM 13, kebetulan mereka punya mobil, akhirnya membantu dengan menyediakan mobil fire,” pungkas Usman. (Las)