
Ketua FKUB Kota Samarinda, Saparudin. Senin (28/09/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Pembacaan Maulid Barzanji yang dihadirkan dalam rangkaian acara Erau Kutai Kartanegara, yang dilaksanakan dari tanggal 20-27 September 2026, mendapat respons positif dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda.
Ketua FKUB Kota Samarinda, Saparudin mengatakan, perpaduan antara tradisi budaya dan nilai-nilai keagamaan tersebut menjadi bentuk inovasi positif dalam menjaga keberlangsungan budaya di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, Kalimantan Timur merupakan daerah yang terbuka terhadap keberagaman budaya.
Kehadiran berbagai tradisi yang dibawa masyarakat dari latar belakang berbeda menjadi bagian penting dari kehidupan sosial di daerah.
“Sebagai orang tua, terlepas dari posisi saya sebagai Ketua FKUB, tentu saya mengapresiasi budaya-budaya yang hidup dan berkembang di daerah kita,” ujar Saparudin.
Ia mengemukakan, tradisi yang tetap dipertahankan, namun dikembangkan melalui inovasi menjadi bagian dari upaya menjaga budaya agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Dalam konteks Erau, Saparudin melihat pembacaan Maulid Barzanji memberikan warna tersendiri.
Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan unsur budaya, tetapi juga membawa nilai spiritual dalam rangkaian perayaan.
“Berzanji itu merupakan tradisi Islam. Di dalamnya dibicarakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dan tata kehidupan yang dibangun oleh para ulama, kemudian disampaikan dalam bentuk Barzanji agar mudah dipahami umat,” katanya.
Menurut Saparudin, pembacaan Barzanji juga memiliki nilai keagamaan yang kuat karena masyarakat mengharapkan keberkahan dari Allah SWT serta syafaat Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, ia menilai kehadiran unsur keagamaan dalam perayaan budaya, seperti Erau merupakan sesuatu yang patut dihargai sepanjang tetap ditempatkan secara tepat dalam rangkaian kegiatan.
“Ada sesuatu yang positif dan baik, tentu kita apresiasi kegiatan itu. Apalagi dalam perayaan budaya oleh Sultan yang menjunjung tinggi budaya,” ucapnya.
Saparudin menuturkan hubungan antara masyarakat dan Kesultanan juga memiliki nilai historis dan kultural yang kuat.
Menurutnya, masyarakat menghormati Kesultanan, sementara Kesultanan turut menjaga serta menghormati budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Ia mengibaratkan masyarakat harus mampu menjaga budaya daerah sebagaimana prinsip "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".
“Segala budaya yang ada harus kita perkuat, kita pertahankan dan kita kembangkan. Dalam konteks dikembangkan inilah biasanya inovasi selalu ada, dan inovasi-inovasi baru yang positif tentu kita harapkan mendapatkan respons positif dari masyarakat luas,” tuturnya.
Saparudin menilai perpaduan nilai kultural dan spiritual dalam Erau, dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati perayaan budaya, sekaligus memperoleh pesan-pesan keagamaan.
Ia berharap keberadaan tradisi, seperti pembacaan Maulid Barzanji dapat terus menjadi bagian dari kekayaan budaya yang berkembang di Kalimantan Timur, tanpa menghilangkan akar tradisi yang telah diwariskan sebelumnya.
“Sebagai masyarakat daerah, kita hormati dan kita hargai sebuah inovasi, sebuah karya baru yang menggabungkan antara nilai-nilai kultural dengan nilai-nilai spiritual,” ucapnya. (Abi)