
Wakil Bupati Berau Gamalis saat menyerahkan piagam penghargaan kepada pemenang Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul dan Festival Kue Tradisional dalam rangka Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb, Rabu (23/9/2026).(Foto: Bul/KutaiRaya.com)
BERAU, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Berau terus melihat peluang pengembangan pariwisata dari berbagai potensi yang dimiliki daerah. Tidak hanya mengandalkan kekayaan alam, sektor pariwisata juga diarahkan untuk semakin kuat melalui budaya dan kuliner khas yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Berau.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul dan Festival Kue Tradisional dalam rangka Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb, Rabu (23/9/2026).
Wakil Bupati Berau Gamalis mengatakan, kuliner tradisional memiliki nilai lebih karena tidak hanya menyajikan cita rasa, tetapi juga membawa cerita sejarah dan budaya yang dapat menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan.
Karena itu, menurutnya, kuliner khas Berau perlu diperkenalkan secara lebih luas dan dikembangkan agar dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata daerah.
“Kalau tamu datang ke Berau, tentu kita ingin mereka tidak hanya melihat objek wisatanya, tetapi juga merasakan makanan khas yang kita miliki,” ungkap Gamalis.
Ia bahkan berharap kuliner seperti Ancur Paddas dan Puncak Rasul dapat mulai diperkenalkan melalui sektor perhotelan dan restoran di Berau. Salah satunya dengan menghadirkan makanan khas tersebut sebagai pilihan menu bagi para tamu.
“Saya ingin hotel-hotel dapat menyajikan Ancur Paddas dalam menu sarapan. Ini bisa menjadi salah satu cara memperkenalkan makanan khas kita kepada para tamu,” ujarnya.
Menurut Gamalis, pengembangan kuliner lokal juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Jika produksi, pengemasan dan penyajiannya dikembangkan secara baik, makanan tradisional dapat memiliki nilai jual sekaligus menjadi bagian dari produk pariwisata Berau.
Ia pun meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau untuk melihat potensi tersebut secara lebih luas, termasuk mendorong keterlibatan masyarakat yang memiliki keterampilan mengolah makanan tradisional.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Disbudpar untuk memberdayakan masyarakat yang dapat mengolah Ancur Paddas, Puncak Rasul dan kuliner lainnya agar bisa dinikmati, khususnya oleh para tamu,” jelasnya.
Penguatan promosi juga dinilai tidak harus hanya dilakukan melalui kegiatan pemerintah. Gamalis mengajak pelaku usaha dan content creator lokal mengambil peran dalam memperkenalkan kekayaan kuliner Berau melalui media sosial.
Dengan semakin banyaknya konten yang mengangkat makanan khas daerah, kuliner Berau diharapkan dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi masyarakat luar daerah yang berkunjung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budisantosa, menjelaskan bahwa Ancur Paddas dan Puncak Rasul memiliki keterkaitan erat dengan sejarah serta kebudayaan masyarakat Berau.
Ancur Paddas, kata dia, merupakan kuliner warisan leluhur yang bahan maupun proses pengolahannya diwariskan secara turun-temurun dari lingkungan kesultanan atau kerajaan di Berau.
Sementara Puncak Rasul berkaitan dengan tradisi masyarakat Banuwa di lingkungan kedua Kesultanan Berau dan umumnya disajikan dalam kegiatan tertentu, seperti acara syukuran maupun peringatan hari besar Islam.
“Budaya kita juga terkait dengan makanan atau kuliner. Karena itu, kami berharap masyarakat dapat berpartisipasi dalam kegiatan Hari Jadi Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb,” ujar Yudha.
Menurutnya, pelestarian kuliner tradisional menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kebudayaan daerah sekaligus memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.
Festival Kue Tradisional yang digelar bersamaan juga menjadi ruang untuk memperlihatkan keberagaman kuliner yang berkembang di Berau. Kegiatan tersebut melibatkan perangkat daerah, perhotelan, restoran serta organisasi kemasyarakatan.
Kehadiran berbagai jenis kue dan jajanan tradisional menunjukkan keberagaman budaya yang tumbuh di Berau sebagai daerah yang terbuka dan menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang masyarakat.
Tak hanya makanan, pengembangan potensi lokal juga mulai diarahkan pada inovasi produk minuman. Dalam kegiatan tersebut dilakukan uji rasa minuman yang diinisiasi Hotel Mercure dengan memanfaatkan bahan-bahan dari potensi lokal Berau.
Yudha menyebut inovasi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan sajian khas daerah yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan.
“Harapannya bisa menjadi salah satu ciri khas minuman Kabupaten Berau yang dipersembahkan untuk para wisatawan, baik dari mancanegara maupun Nusantara,” katanya.
Pengembangan kuliner lokal ini sejalan dengan upaya Pemkab Berau memperkuat sektor pariwisata berbasis potensi daerah. Destinasi wisata tidak hanya ditawarkan melalui keindahan alam, tetapi juga melalui pengalaman budaya, cita rasa dan produk lokal yang dapat dinikmati langsung oleh wisatawan. (Adv/Bul)