
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo ngobrol santai bersama masyarakat KM 15 Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkpt) Balikpapan mulai menjaring langsung kebutuhan masyarakat di tingkat lingkungan, untuk memastikan potensi ekonomi warga dapat masuk dalam program pembangunan daerah.
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo mengatakan, kegiatan Ngobrol Santai (Ngobras) bersama masyarakat menjadi salah satu cara pemerintah mendengar langsung berbagai keluhan, sekaligus kebutuhan warga yang belum seluruhnya terakomodasi dalam perencanaan pembangunan.
Menurut Bagus, aspirasi masyarakat sebenarnya telah memiliki saluran formal melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), yang dimulai dari tingkat RT, kelurahan, kecamatan hingga pemerintah kota.
Namun, ia menilai komunikasi langsung dengan masyarakat tetap penting untuk menggali kebutuhan secara lebih konkret.
“Jadi saya mau mulai supaya mendengar langsung apa yang mereka keluhkan, apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka butuhkan. Itu benar-benar bisa dimasukkan dalam program kegiatan Pemerintah Kota Balikpapan,” kata Bagus, pada hari Senin (21/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, warga Kelurahan Karang Joang menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi kelompok tani. Salah satunya kendala hama yang membuat sejumlah komoditas pertanian sulit dikembangkan.
Bagus mengatakan usulan tersebut akan menjadi bahan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Ia menyebut Dinas Pangan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) akan dilibatkan untuk melihat kebutuhan dan potensi yang ada di lapangan.
“Saya akan panggil teman-teman OPD dari Dinas Ketahanan Pangan, kemudian dari DLH, dari PTMB. Nanti suatu saat mungkin kita ajak mereka untuk melihat ada potensi peternakan dan perikanan di RT 36,” jelasnya.
Bagus menyebut kawasan tersebut juga memiliki potensi persawahan dan tambak yang dapat dikembangkan apabila mendapatkan dukungan program pemerintah secara tepat.
Pengembangan potensi lokal itu, lanjutnya, tidak hanya diarahkan untuk menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Di samping menambah pendapatan warga, kalau berkaitan dengan bimbingan teknis, kita akan adakan untuk peternakan dan perikanan,” katanya.
Salah satu potensi yang disoroti warga adalah peternakan ayam petelur. Namun, fasilitas peternakan yang ada disebut telah lama tidak beroperasi dan membutuhkan perbaikan.
“Untuk peternakan ayam perlu perbaikan karena sudah lama mangkrak, sekitar tiga tahun. Ayam petelur itu perlu perbaikan,” ungkap warga.
Bagus menilai berbagai potensi tersebut perlu dipetakan lebih lanjut agar intervensi pemerintah tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Dengan demikian, pengembangan ekonomi masyarakat Sungai Wain diharapkan dapat berjalan bersamaan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan Kota Balikpapan.
Perwakilan Kelompok Tani Bina Bersama, Imam, mengatakan tanaman pertanian seperti jagung dan palawija menghadapi gangguan hama, terutama monyet. Bahkan, tanaman pisang yang sebelumnya menjadi salah satu pilihan warga juga sulit dipanen karena serangan satwa tersebut.
“Kendala di sini hamanya yang tidak bisa diampuni. Tanam pisang saja sekarang sudah tidak bisa panen, dipanen monyet,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai turut menghambat perkembangan sektor pertanian di kawasan Sungai Wain. Padahal, menurut warga, terdapat lahan persawahan sekitar 25 hektare yang selama ini sempat direncanakan untuk dikembangkan.
Warga berharap rencana pengembangan lahan tersebut tidak berhenti pada tahap wacana, tetapi memiliki tindak lanjut yang jelas.
Selain pertanian, masyarakat juga mengusulkan pengembangan sektor lain yang dinilai lebih sesuai dengan potensi wilayah, terutama peternakan dan perikanan. (Las)