
Bimbingan Teknis Wawasan Kebangsaan FPK Kota Balikpapan, di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Sabtu (19/9/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Balikpapan didorong semakin aktif menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat, di tengah meningkatnya interaksi sosial dan budaya seiring perkembangan Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo mengatakan, keberagaman masyarakat merupakan salah satu kekuatan utama Kota Balikpapan. Hal itu tercermin dari keberadaan hampir 131 paguyuban budaya dan etnis yang hidup berdampingan di Kota Minyak.
“Balikpapan adalah kota yang kosmopolitan dan heterogen. Ada hampir 131 paguyuban budaya dan etnis yang ada di Balikpapan. Tapi kita tetap kokoh, bersatu, dan kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” kata Bagus.
Menurutnya, posisi Balikpapan sebagai pintu gerbang IKN sekaligus kota penyangga membuat arus migrasi dan interaksi sosial budaya dari berbagai daerah semakin dinamis.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diimbangi dengan penguatan ketahanan sosial agar keberagaman tetap menjadi kekuatan dan tidak memicu gesekan di tengah masyarakat.
“Dinamika ini menuntut kita untuk selalu memperkuat benteng pertahanan sosial. Di sinilah peran krusial Forum Pembauran Kebangsaan yang sudah dibentuk,” ujarnya.
Bagus menekankan FPK memiliki peran penting sebagai jembatan yang merekatkan hubungan antarsuku, ras, dan etnis. Karena itu, pengurus dan anggota FPK diminta meningkatkan kapasitas serta pemahaman dalam mengelola keberagaman.
Hal tersebut disampaikan Bagus saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Wawasan Kebangsaan FPK Kota Balikpapan, di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Sabtu(19/9/2026).
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat melahirkan program kerja yang nyata dan dirasakan masyarakat.
“Menjalin silaturahmi berarti kita juga memperkuat dan mampu melahirkan ide-ide kreatif dan program kerja nyata yang membumi. Sehingga semangat pembauran kebangsaan ini tidak hanya berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat Balikpapan,” tuturnya.
Bagus juga mengapresiasi FPK yang telah terbentuk hingga tingkat kelurahan. Menurutnya, keberadaan struktur tersebut dapat memperkuat upaya menjaga persatuan dan kondusivitas di tingkat masyarakat.
“Karena sudah terbentuk sampai kelurahan, saya berharap FPK harus menjadi pelopor untuk kesatuan dan persatuan, sehingga Kota Balikpapan ini selalu terjaga kondusivitasnya,” katanya.
Bagus menambahkan, semangat menjaga keberagaman juga perlu dibangun melalui komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Ia mengatakan mahasiswa merupakan salah satu kelompok masyarakat yang kritis dan memiliki peran dalam menyampaikan aspirasi publik.
“Mudah-mudahan karena mereka adalah calon intelektual, di dalam melakukan unjuk rasa, di dalam melakukan demonstrasi, selalu mengedepankan kondusivitas, data, dan memberikan solusi yang konstruktif,” pungkasnya.
Bagus mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk mendukung pembangunan daerah dan nasional.
“Keberagaman adalah anugerah. Di Balikpapan, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan dan kekuatan utama untuk mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional,” katanya.
Sementara itu, Ketua FPK Kota Balikpapan Abdul Rachim mengingatkan seluruh anggota, agar memahami posisi FPK sebagai organisasi yang tidak berafiliasi dengan partai politik.
Ia menegaskan, netralitas FPK perlu dijaga agar organisasi tetap fokus menjalankan fungsi pembauran dan memperkuat persatuan masyarakat.
“FPK tidak berafiliasi pada partai politik. Tapi kita tidak menghilangkan hak politik. Jangan pernah membawa politik FPK ke politik dan membawa politik ke dalam FPK. Itu yang saya jaga,” tegas Abdul Rachim.
Ia meminta jajaran FPK mulai tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan mampu menempatkan diri sebagai perekat di tengah masyarakat.
“Sebagai anggota FPK ini sebagai lem, sebagai perekat, penyebar kebaikan. Jadi jangan dirusak. Pintar-pintar membawa diri,” ujarnya.
Abdul Rachim juga mengajak peserta Bimtek Wawasan Kebangsaan menyerap materi yang disampaikan para narasumber dan menerapkannya setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
Menurutnya, wawasan kebangsaan perlu diwujudkan melalui sikap yang mengutamakan persatuan dan kesatuan, menghargai kebinekaan, serta menjaga budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
Ia menilai penggunaan pakaian adat dalam kegiatan tersebut juga menjadi simbol penting untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah.
“Ketika baju budaya, simbol budaya kita hilang dari negeri ini, Indonesia sirna. Jadi apa yang kita lakukan hari ini bukan untuk kita, tetapi untuk anak cucu kita. Kita hanya merintis jalannya saja,” katanya.
Abdul Rachim menambahkan, tantangan terhadap persatuan semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi informasi, globalisasi, serta masuknya berbagai nilai dari luar.
Karena itu, ia berharap anggota FPK mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan semangat persatuan, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat. (Las)