• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret udara Samarinda adi kepung asap Karhutla. Lokasi foto di Lok Bahu, Samarinda. Rabu (16/09/2026). (Foto:Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menekan kualitas udara Samarinda.

Bukan hanya jarak pandang yang menurun, konsentrasi partikel halus PM2.5 juga tercatat berada pada level yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Data IQAir pukul 16.20 WITA, mencatat indeks kualitas udara Samarinda berada di angka 108 AQI US.

Sementara konsentrasi PM2.5 mencapai 38,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi ini juga terkonfirmasi melalui pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang mencatat konsentrasi PM2.5 Samarinda berada pada kategori tidak sehat pada hari yang sama.

Persoalannya bukan semata jumlah asap yang berada di udara.

Kondisi atmosfer saat ini membuat asap cenderung tertahan di dekat permukaan, sehingga dampaknya terhadap jarak pandang dan kualitas udara menjadi lebih terasa.

Forecaster BMKG Samarinda, Duo Rahman Abdilah mengatakan, penurunan kualitas udara terjadi bersamaan dengan berkurangnya visibilitas.

“Hasil observasi kami memang saat ini udara cenderung turun, kemudian visibilitas atau pandangan ini juga berkurang akibat adanya asap dan juga tutupan awan yang cukup menutupi langit di Samarinda,” kata Rahman.

Berdasarkan pemantauan, situasi atmosfer Samarinda saat ini cukup berbeda dari gambaran kemarau yang biasanya identik dengan langit cerah dan minim awan.

Tutupan awan justru cukup banyak. Kondisi ini mengurangi radiasi matahari yang mencapai permukaan sehingga proses pemanasan permukaan ikut berkurang dan suhu udara menurun.

Namun di sisi lain, kondisi atmosfer tersebut membuat asap tidak mudah terdispersi.

Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan dapat tertahan di lapisan udara dekat permukaan.

Akibatnya, konsentrasi asap menjadi lebih terasa dan jarak pandang ikut terganggu.

“Visibilitas yang berkurang ini besar dipengaruhi oleh adanya asap dari kebakaran hutan karena dari tutupan awannya cukup banyak, jadi asap itu cenderung terperangkap di bawah permukaan daerah Samarinda,” jelasnya.

Kondisi ini membuat penurunan jarak pandang tidak bisa langsung dikaitkan dengan terbentuknya kabut.

BMKG memastikan kondisi yang terjadi bukan semata-mata akibat kabut.

Salah satu indikatornya terlihat dari tingkat kelembapan udara.

Rahman menyebut kelembapan yang terukur berada di kisaran 70 persen.

Angka ini masih jauh dari kondisi kelembapan yang biasanya mendukung terbentuknya kabut tebal.

“Dari data kelembapan kami itu tidak cukup sampai dikatakan ini kabut karena dia di bawah dari 90 malah sekarang sekitar 70 untuk kelembapannya,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, keberadaan asap menjadi faktor yang lebih dominan dalam berkurangnya jarak pandang.

“Makanya kami bisa mengatakan ini faktor dari asap,” tutur Rahman.

Selain keberadaan asap karhutla, BMKG juga melihat kondisi atmosfer Samarinda dipengaruhi oleh dinamika cuaca regional.

Dengan kondisi udara PM2.5 mencapai 38,2 µg/m³ dan indeks kualitas udara berada di angka 108 AQI US, masyarakat usia rentan perlu meningkatkan kewaspadaan pada kondisi udara saat ini. (Abi)



Pasang Iklan
Top