• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kabut asap yang terlihat pekat di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kukar, Rabu (16/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kabut asap terlihat cukup pekat di Kecamatan Tenggarong dan sejumlah wilayah sekitarnya pada Rabu (16/9/2026).

Kondisi ini terlihat semakin jelas karena cuaca mendung, namun Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belum dapat memastikan apakah kualitas udara hari ini memburuk tanpa adanya hasil pengukuran terbaru.

Kepala Bidang Pencemaran DLHK Kukar, Ahmad Fahruji mengatakan, penilaian kualitas udara harus berdasarkan hasil pengujian, bukan hanya melihat kondisi kabut secara kasat mata.

Menurutnya, secara visual kabut memang terlihat lebih pekat.

Namun, kondisi ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kualitas udara sedang berada dalam kondisi buruk.

"Kalau tanpa kami melakukan pengujian, kami tidak berani menyatakan itu buruk atau baik. Kita harus berdasarkan uji kualitas, uji laboratorium," kata Fahruji kepada KutaiRaya.com, Rabu (16/9/2026).

Ia menjelaskan kondisi kabut yang terlihat hari ini juga dapat dipengaruhi oleh cuaca.

Hujan di sejumlah wilayah, terutama jika tidak turun deras, dapat membuat asap masih terlihat di udara.

"Kalau secara visual memang agak pekat hari ini. Karena sepertinya ada daerah-daerah yang hujan. Kalau hujannya tidak deras, asap masih bisa terlihat. Kalau deras betul, saya yakin tidak seperti ini," ujarnya.

Meskipun kondisi udara hari ini belum dapat dipastikan, sebelumnya DLHK Kukar telah melakukan pengukuran kualitas udara pada awal September.

Pengukuran di halaman Kantor Bupati Kukar dilakukan selama 24 jam pada 2-3 September 2026.

Hasilnya menunjukkan 2 parameter, yakni PM10 dan sulfur dioksida (SO₂), berada di atas baku mutu.

Kadar PM10 tercatat 99,40 mikrogram per meter kubik, sedangkan sulfur dioksida (SO₂) mencapai 341,93 mikrogram per meter kubik.

Dalam hasil pemantauan tersebut, kadar PM10 tercatat melampaui baku mutu sebesar 132,5 persen.

Sedangkan SO₂ mencapai 227,9 persen dari baku mutu.

Ia mengemukakan, pengukuran ini merupakan bagian dari pemantauan bertahap yang dilakukan DLHK Kukar.

Pada tahap pertama, DLHK melakukan pengukuran di 3 titik.

Kemudian pada tahap kedua, pengukuran dilakukan di 4 titik, yakni halaman Kantor Bupati Kukar, Sangasanga, Tabang dan Kembang Janggut.

Untuk pengukuran di Tabang dan Kembang Janggut, DLHK Kukar berkolaborasi dengan Bayan Group.

Namun, hasil pengukuran dari sejumlah lokasi tersebut masih belum seluruhnya keluar.

Ia menegaskan hasil pengukuran awal September tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan kondisi udara pada hari ini.

"Kalau untuk kondisi hari ini, saya tidak bisa menyatakan ini lebih baik atau lebih buruk. Karena kita tidak berani menyatakan tanpa kita melakukan pengujian," tuturnya.

DLHK Kukar juga belum bisa memastikan wilayah mana yang saat ini memiliki kualitas udara paling buruk karena pengukuran terbaru di seluruh wilayah belum selesai.

Pihaknya baru melakukan pengukuran langsung di Sangasanga.

Sementara untuk Tabang dan Kembang Janggut dilakukan bersama pihak Bayan Group.

Di tengah kondisi kabut asap yang masih terlihat, DLHK Kukar mengimbau masyarakat tetap menjaga diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

"Kami berharap masyarakat, melihat kondisi seperti ini, pakai masker," katanya.

Sementara itu, salah seorang warga Kukar, Rendra mengatakan, kondisi kabut asap pada Rabu (16/9/2026) terlihat cukup tebal dibandingkan biasanya.

Kondisi ini juga semakin terasa karena cuaca di Tenggarong dan sekitarnya sedang mendung.

"Memang hari ini kelihatan cukup tebal asap atau kabutnya. Apalagi cuacanya juga mendung, jadi kelihatan lebih pekat dari biasanya," katanya.

Kondisi ini membuat suasana di sekitar Tenggarong terlihat berkabut, terutama saat masyarakat melakukan aktivitas di luar rumah.

Ia berharap kondisi kabut asap segera berkurang sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.

"Semoga asapnya cepat berkurang dan kondisi udara kembali normal. Kalau memang harus keluar, mungkin lebih baik kita tetap hati-hati," ucapnya (*Zar)



Pasang Iklan
Top