• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Pemkab Berau



Rapat Paripurna DPRD Berau dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216, Senin (14/9/2026).(Foto: Bul/KutaiRaya.com)


BERAU, (KutaiRaya.com): Memasuki usia ke-73 tahun, Kabupaten Berau terus memperkuat fondasi pembangunan dengan mengoptimalkan potensi daerah sekaligus menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Momentum Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Kota Tanjung Redeb ke-216 menjadi refleksi perjalanan pembangunan sekaligus penegasan komitmen pemerintah daerah untuk membawa Berau menuju daerah yang maju, unggul, berkelanjutan, makmur dan sejahtera.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Paripurna DPRD Berau dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216, Senin (14/9/2026).

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan pembangunan daerah akan terus diarahkan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan tetap menyesuaikan kemampuan fiskal serta potensi yang dimiliki daerah.

Menurutnya, pembangunan Berau tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, ekonomi masyarakat, pelayanan publik, pariwisata, UMKM, pertanian, perikanan hingga pengembangan ekonomi kreatif.

“Karena Berau adalah rumah kita bersama, maka mari kita jaga bersama,” kata Sri.

Arah pembangunan tersebut sejalan dengan visi Kabupaten Berau periode 2025-2030, yakni mewujudkan Berau yang maju, unggul, berkelanjutan, makmur dan sejahtera.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pemerintah daerah menetapkan sejumlah misi yang mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, penguatan tata kelola pemerintahan, pemerataan pembangunan, pengembangan ekonomi kreatif dan inovatif, serta penguatan sektor pariwisata dan UMKM.

Pemkab Berau juga terus mendorong transformasi ekonomi dengan memperkuat sektor-sektor potensial yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

Pariwisata menjadi salah satu sektor strategis yang terus dikembangkan. Posisi Berau sebagai salah satu kawasan pengembangan pariwisata dalam kebijakan pembangunan nasional menjadi peluang untuk memperluas dampak ekonomi sektor pariwisata terhadap masyarakat.

Pengembangan pariwisata kemudian dipadukan dengan penguatan UMKM, ekonomi kreatif, pertanian, perkebunan dan perikanan.

Salah satu potensi lokal yang menunjukkan perkembangan adalah komoditas kakao. Produk kakao Berau bahkan telah menembus pasar internasional.

Sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 23 ton biji kakao Berau tercatat telah diekspor ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Belanda dan Prancis. Sementara pada 2026, ekspor kembali dilakukan dengan volume 11,5 ton menuju Prancis dan Swiss.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa komoditas lokal Berau memiliki peluang untuk terus dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Selain perkebunan, sektor pertanian juga terus menunjukkan perkembangan. Hingga Agustus 2026, luas tanam padi mencapai 2.711,2 hektare dengan produksi 7.862,48 ton gabah kering. Sementara luas tanam jagung mencapai 842,8 hektare dengan produksi 3.851 ton jagung pipil kering.

Pada sektor perikanan, produksi tahunan Berau mencapai sekitar 35 ribu ton yang berasal dari perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan.

Pemerintah daerah melihat capaian tersebut sebagai modal penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan membuka semakin banyak peluang usaha bagi masyarakat.

Penguatan ekonomi daerah juga membutuhkan dukungan konektivitas dan infrastruktur yang memadai. Karena itu, Pemkab Berau terus mengarahkan pembangunan infrastruktur untuk membuka akses wilayah sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang serta jasa.

Sejumlah pembangunan infrastruktur yang tengah dikerjakan antara lain Jembatan Bailey di wilayah hulu Kelay, Dermaga Teluk Sulaiman, Jembatan Sei Sumbang serta Jembatan Sei Bataan di kawasan pesisir.

Pembangunan tersebut diharapkan tidak hanya mempermudah akses masyarakat, tetapi juga menjadi pengungkit aktivitas ekonomi, perdagangan dan pariwisata di berbagai wilayah.

Di sektor pelayanan masyarakat, Pemkab Berau juga menjalankan sejumlah program prioritas. Di antaranya bantuan angkutan bagi pelajar dan mahasiswa, pembebasan biaya masuk sekolah TK, SD dan SMP, BPHTB gratis bagi masyarakat tidak mampu, pengembangan Trans Berau, pembangunan fasilitas olahraga, penguatan pusat ekonomi desa hingga pembangunan Berau Creative Hub.

Berbagai program tersebut diarahkan untuk memastikan pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas dan menyentuh kebutuhan masyarakat.

Di tengah agenda pembangunan, Pemkab Berau juga menghadapi tantangan lingkungan berupa kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sri mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta serta berbagai unsur terkait.

Upaya penanganan dilakukan melalui berbagai langkah, termasuk pemadaman di lapangan, water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Berdasarkan data per 29 Agustus 2026, hotspot di Berau sempat mencapai 779 titik. Namun, kondisi tersebut mulai menunjukkan penurunan. Data BMKG Kalimantan Timur periode 9 September 2026 mencatat hotspot Berau turun menjadi 50 titik.

“Yang kita jaga bukan hanya hutan dan lahan. Yang kita jaga adalah udara yang kita hirup, kesehatan keluarga kita, aktivitas ekonomi masyarakat kita, dan masa depan anak-anak kita,” ujar Sri.

Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Dalam momentum Hari Jadi Berau ke-73, Pemkab Berau menegaskan pembangunan tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan seluruh masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.

Sementara itu, Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, juga menekankan pentingnya menjadikan momentum hari jadi sebagai ruang evaluasi dan introspeksi bersama.

Menurutnya, keterbatasan fiskal harus disikapi dengan meningkatkan efektivitas program pembangunan agar setiap anggaran yang tersedia benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Efisiensi bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Efisiensi justru menjadi cambuk bagi kita untuk bekerja secara lebih cerdas, lebih tajam, dan lebih berdampak,” tegas Dedy.

Kolaborasi tersebut juga diperlukan dalam menjaga sejarah, budaya dan identitas daerah. Keberadaan Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Berau sekaligus kekayaan budaya yang perlu terus dijaga.

Memasuki usia ke-73, Pemkab Berau menatap pembangunan ke depan dengan semangat memperkuat potensi lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas konektivitas dan membuka peluang ekonomi baru.

Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah optimistis pembangunan dapat terus bergerak dan memberikan manfaat yang semakin luas.

Sebab, kemajuan Berau bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kerja bersama seluruh masyarakat untuk menjaga dan membangun daerah sebagai rumah bersama. (Adv/Bul)



Pasang Iklan
Top