
Padi yang tumbuh di Danau Semayang, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kukar, Jumat (11/9/2026).(Foto: Warga)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Aksi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri menebar benih padi langsung di kawasan Danau Semayang, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, sempat menuai pro dan kontra setelah videonya ramai di media sosial.
Sejumlah netizen mempertanyakan benih padi yang ditebar ke kawasan danau yang masih terdapat air tersebut.
Ada yang menilai cara itu tidak lazim dan meragukan apakah benih benar-benar bisa tumbuh.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Padi yang sebelumnya lebih dulu ditanam secara swadaya oleh masyarakat ternyata sudah tumbuh.
Bahkan, perkembangan tanaman tersebut kini mulai menunjukkan prospek untuk dipanen.
Aulia menjelaskan kegiatan ini sebenarnya bukan pemerintah yang memulai penanaman.
Masyarakat Desa Semayang sudah lebih dulu memanfaatkan kondisi Danau Semayang yang surut untuk bercocok tanam.
Kemudian pemerintah memberikan dukungan setelah mendapat permintaan dari masyarakat yang membutuhkan tambahan benih.
"Karena kami dapat laporan dari sana, ada permohonan kepada pemerintah daerah untuk meminta tambahan bibit. Masyarakat di sana sudah melakukan proses pertanian sebelum kita datang," ujar Aulia kepada awak media, Jumat (11/9/2026).
Pada tahap awal, Pemkab Kukar memberikan sekitar 500 kilogram benih.
Karena masih terdapat lahan yang bisa dimanfaatkan, masyarakat kembali meminta tambahan benih hingga total bantuan yang disalurkan mencapai sekitar 1,25 ton.
Ia menuturkan saat turun ke lapangan dirinya didampingi Dinas Pertanian dan Peternakan serta pihak terkait.
Kemudian ia mengikuti cara masyarakat menanam padi di kawasan danau.
"Metodenya memang sangat unik. Seolah-olah kita seperti menabur padi di sungai. Tetapi itulah metode yang digunakan oleh warga yang ada di sana," katanya.
Ia menegaskan apa yang dilakukan pemerintah bukan sekadar menebar benih tanpa perhitungan.
Sebelum pemerintah datang, sudah ada tanaman padi milik masyarakat yang tumbuh dengan metode serupa.
"Alhamdulillah, yang 500 kilogram pertama itu sudah tumbuh. Memang kalau orang dari luar melihat seperti kita buang-buang padi, tetapi fakta di lapangan dengan kearifan lokal seperti itu memang itulah yang terjadi di sana," tuturnya.
Ia menerangkan dalam 1-2 hari ini rekan-rekan Dinas Pertanian bersama BRMP akan turun ke sana untuk melihat hamanya seperti apa dan akan membantu warga untuk pengendalian hamanya.
Ia berharap metode yang merupakan bagian dari kearifan lokal tersebut dapat membantu masyarakat Semayang menghadapi kondisi kemarau.
Sebab sebagian besar warga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan, kini mulai memanfaatkan kondisi danau untuk bertani.
"Sembilan puluh persen warga Semayang yang dulunya nelayan, sekarang bertahan memanfaatkan kondisi alam hari ini. Kami support karena biayanya sangat murah. Tidak ada olah lahan, tidak ada treatment khusus," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Moh. Rifani meluruskan bahwa kehadiran Bupati saat kegiatan tersebut lebih bersifat simbolis sebagai bentuk dukungan pemerintah kepada masyarakat.
Saat Bupati datang pada 1 September 2026, hampir separuh kawasan yang dimanfaatkan masyarakat di Danau Semayang sudah ditanami secara swadaya.
"Itu sudah ditanam oleh masyarakat secara swadaya melalui mekanisme tabela, tebar benih langsung," kata Rifani saat ditemui.
Bahkan, lanjut dia, sebagian tanaman yang sudah lebih dulu ditanam masyarakat ketika Bupati datang telah berusia sekitar 20 hari setelah tanam.
Ia juga menegaskan benih yang ditebar langsung oleh Bupati tidak sampai satu kantong berisi 25 kilogram.
Sisanya dibagikan kepada masyarakat untuk ditebar di petak masing-masing.
"Bupati itu secara simbolis. Hadirnya Pak Bupati sebenarnya ingin menyatakan bahwa pemerintah hadir di tengah kondisi yang ada. Pemerintah memberi semangat kepada masyarakat terhadap kegiatan yang merupakan tradisi mereka turun-temurun," ujarnya.
Ia menjelaskan metode tersebut dikenal sebagai tabela, yakni tanam benih langsung.
Khusus penebaran benih di air, metode itu dikenal sebagai Tabela Dar.
Cara tersebut bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat Semayang.
Berdasarkan pengalaman warga, metode serupa sudah dilakukan sejak sekitar 1996.
Bahkan, masyarakat pernah menggelar panen raya menggunakan cara tersebut pada 2015.
Benih yang bernas akan tenggelam ke dasar air, sedangkan benih yang kosong cenderung mengambang.
Ketika debit air danau terus menyusut, benih yang berada di dasar kemudian tumbuh di lahan yang mulai mengering.
"Jadi ada keuntungan juga, benih yang tidak baik akan mengambang," ujarnya.
Menurutnya, metode ini juga membuat biaya produksi masyarakat jauh lebih rendah karena tidak membutuhkan pengolahan lahan maupun pemupukan seperti sawah pada umumnya.
Ia menyebutkan luas lahan yang telah ditanami dan mulai tumbuh berada di kisaran 500 hektare.
Sebagian besar merupakan hasil swadaya masyarakat.
Distanak Kukar masih akan melakukan monitoring untuk memastikan perkembangan tanaman, termasuk mengecek laporan adanya serangan hama di sejumlah lokasi.
"Terakhir kami ke sana, ada yang sudah 20 hari. Nanti mungkin minggu depan kita monitoring. Sekalian kita mau cek karena laporannya katanya ada serangan hama. Kalau memang perlu kita bantu, kita bantu," ucapnya. (Zar)