• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Water Bombing yang berada di Desa Saliki Kecamatan Muara Badak, Kamis (10/9/2026).(Foto: Camat Muara Badak)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) diperkuat dengan pengerahan water bombing ke 5 kecamatan yang masih memiliki titik rawan kebakaran.

Terbaru, operasi udara dilakukan di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, Kamis (10/9/2026).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan. Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Setianto Nugroho Aji mengatakan, pengerahan water bombing dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kaltim dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Water bombing difungsikan untuk membantu tim di darat, terutama ketika terdapat titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Dalam rangka penanganan karhutla khusus di Kabupaten Kukar, kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan BNPB untuk melaksanakan water bombing membantu pemadaman yang ada di lapangan," ujar Setianto kepada KutaiRaya.com, Kamis (10/9/2026).

Ia mengemukakan, operasi water bombing di Kukar dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari, pada pagi dan siang hari.

Setelah Muara Badak, operasi akan dilanjutkan ke wilayah sasaran berikutnya sesuai hasil evaluasi tim.

Lima kecamatan yang menjadi sasaran water bombing dari Muara Badak, Anggana, Sangasanga, Muara Jawa dan Samboja.

"Ini sebagai upaya kami membantu regu pemadaman yang ada di lapangan, bilamana masih memerlukan pemadaman lanjutan dan ada titik-titik api yang tidak terjangkau. Tujuannya untuk efisiensi dan mempercepat penanganan karhutla," tuturnya.

Untuk operasi terbaru, water bombing menyasar di Desa Saliki dan Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak.

Ia menegaskan target utama penanganan adalah memadamkan seluruh titik api yang masih muncul.

BPBD juga meminta tim di lapangan dan relawan memantau hasil penyiraman dari udara.

Hal ini penting karena jatuhnya air dapat bergeser akibat kondisi angin.

Jika penyiraman belum tepat sasaran, water bombing dapat kembali dilakukan pada titik yang masih terbakar.

"Spot-spot masih ada. Karena ini juga berkaitan dengan perilaku dan budaya masyarakat setempat, terutama yang ada di wilayah hulu. Masih ada masyarakat yang membakar ladang pada saat musim kering menjelang musim hujan," ucapnya.

Ia mengaku kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar belum sepenuhnya bisa dihilangkan.

Sehingga ia meminta dukungan media untuk ikut mengkampanyekan pembukaan lahan tanpa membakar.

Sementara itu, Camat Muara Badak, Hj Nurhaeda mengatakan, penanganan karhutla di wilayahnya terus dilakukan secara maksimal bersama aparat, relawan, pemadam kebakaran dan pihak terkait.

Khusus di Desa Saliki, water bombing yang sebelumnya dijadwalkan pada Rabu sempat tertunda.

Namun, operasi akhirnya terlaksana pada Kamis dan dilakukan dua kali.

"Hari ini sudah dilakukan dan kalau saya monitor, ini yang kedua kali. Tadi pagi sudah, ini lanjut yang kedua kali di Desa Saliki," katanya.

Ia menjelaskan data luasan lahan terbakar di Muara Badak masih bersifat sementara dan terus diperbarui karena kondisi di lapangan berubah dengan cepat.

Berdasarkan laporan sebelumnya, luasan lahan yang terbakar tercatat sekitar 107 hektare.

Namun, update terbaru yang diterimanya, luasannya sudah mencapai 200 hektare.

"Data itu tentatif, berjalan cepat. Karena di lapangan terkadang satu titik itu berulang kali terbakar, jadi bisa saja luasannya sampai saat ini belum terupdate secara pasti," ujarnya.

Karhutla tersebut berlangsung sekitar satu bulan.

Ia menambahkan pihak kecamatan terus meminta seluruh tim segera bergerak setiap kali menerima informasi adanya titik api.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla di Muara Badak, mulai dari aparat, relawan, petugas pemadam kebakaran hingga stakeholder lainnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top