
Sawah di Betapus yang terancam gagal panen.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Samarinda. Sedikitnya 48 hektare areal persawahan di kawasan Betapus, Lempake, Samarinda Utara, kini menghadapi ancaman kekeringan akibat berkurangnya pasokan air.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Samarinda lantaran sebagian tanaman padi masih berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan suplai air. Jika kekeringan berlanjut, tanaman dikhawatirkan mengalami kerusakan hingga berujung puso atau gagal panen.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan dampak kekurangan air mulai terlihat dari kondisi tanah persawahan yang mengalami retakan. Pemkot pun berupaya mempercepat penanganan dengan mencari sumber air alternatif bagi petani.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengalirkan air dari anak Sungai Karang Mumus menuju areal persawahan menggunakan pompa.
“Lahan pertanian yang terdampak sekitar 48 hektare. Kami berharap Distapang Tani bisa segera menyuplai air ke persawahan ini sehingga tanaman tidak sampai puso dan nantinya tetap dapat dipanen,” kata Saefuddin saat meninjau kawasan pertanian Betapus, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, penyelamatan areal pertanian tersebut penting mengingat potensi produksi yang dihasilkan cukup besar. Produktivitas padi di kawasan itu disebut dapat mencapai sekitar delapan ton per hektare dalam sekali masa panen.
Agar mengatasi minimnya pasokan air, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapang Tani) Kota Samarinda menyiapkan dua unit pompa berkapasitas besar.
Pompa tersebut akan digunakan untuk mengambil air dari anak Sungai Karang Mumus sebelum dialirkan menuju areal pertanian di kawasan Betapus dan Lempake Jaya.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Distapang Tani Samarinda, Noke Pattipawaej, mengatakan pemompaan menjadi salah satu alternatif yang ditempuh agar mempertahankan ketersediaan air di tengah kondisi kemarau.
“Untuk sementara, kami mencari alternatif pengairan melalui sistem pemompaan dengan memanfaatkan sumber air dari anak Sungai Karang Mumus,” ujarnya.
Dua unit pompa tersebut ditargetkan mulai ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan pada Selasa. Pengoperasiannya diproyeksikan membantu memenuhi kebutuhan air bagi lima kelompok tani dengan jumlah anggota sekitar 100 orang.
Penanganan terutama diarahkan pada areal yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kekeringan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tanaman padi berusia sekitar 30 hari setelah tanam.
Pada usia tersebut, tanaman masih membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan. Kekurangan air dalam waktu berkepanjangan dikhawatirkan membuat tanaman mati dan menyebabkan petani kehilangan hasil panen.
“Yang paling kami khawatirkan adalah sawah dengan tanaman yang baru berumur sekitar 30 hari setelah tanam. Karena itu, kami berusaha menjaga pasokan air agar tanaman tidak mati atau mengalami puso,” ungkapnya.
Distapang Tani, masih melakukan berbagai upaya untuk menekan dampak kekeringan sekaligus mempertahankan tanaman hingga memasuki masa panen.
Penanganan tersebut juga melibatkan koordinasi lintas instansi. Distapang Tani telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan.
“Kami tentu berharap kondisi ini tidak berakhir dengan gagal panen atau puso. Meski kekeringan sudah memberikan dampak, harapannya tanaman masih dapat diselamatkan dan petani tetap memperoleh hasil panen,” tukasnya. (*Yud)