• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret awal hujan setelah berapa bulan kemarau. Jumat (04/09/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Hujan yang turun setelah kemarau panjang menjadi kabar baik bagi masyarakat Samarinda.

Namun, masyarakat disarankan tidak terburu-buru menampung air dari guyuran pertama, terutama setelah wilayah terpapar asap dan partikel akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso mengingatkan masyarakat agar membiarkan aliran awal air hujan mengalir terlebih dahulu.

Menurutnya, selama musim kemarau, berbagai material seperti debu, abu, dan kotoran dapat menumpuk di permukaan bangunan, terutama atap dan talang yang menjadi jalur masuk air menuju tempat penampungan.

“Air hujan pertama sebaiknya jangan langsung ditampung. Biarkan mengalir terlebih dahulu agar debu, abu, dan kotoran yang menempel di atap serta talang ikut terbuang,” ujar Suwarso, Jumat (4/9/2026).

Ia menjelaskan material yang menumpuk selama kemarau dapat terbawa masuk ke tempat penampungan ketika hujan pertama turun.

“Selama kemarau, permukaan rumah bisa menjadi tempat menumpuknya berbagai material. Ketika hujan turun, material itu berpotensi terbawa masuk ke penampungan,” katanya.

Kondisi ini menjadi perhatian lebih apabila hujan turun setelah terjadi karhutla.

Asap dan partikulat hasil pembakaran yang berada di udara dapat mengendap di lingkungan sekitar.

Sehingga membuang aliran awal hujan dinilai sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi masuknya debu, abu, dan kotoran ke dalam penampungan.

Setelah aliran awal terbuang dan kondisi atap serta saluran air relatif bersih, air hujan berikutnya dapat dialihkan ke tempat penampungan sesuai kebutuhan.

Sementara itu, dari sisi kesehatan, kualitas air yang ditampung juga perlu menjadi perhatian.

Terlebih, air hujan yang ditampung masyarakat bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari mencuci hingga memasak dan minum.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Ismed Kusasih, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memperhatikan kualitas air sebelum menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan konsumsi.

“Air hujan yang akan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga perlu diperhatikan kualitasnya, terutama jika dipakai untuk memasak, mencuci bahan makanan, atau diminum,” ujar Ismed.

Ia menerangkan setelah kemarau panjang, debu, kotoran, dan berbagai partikel dapat menumpuk di atap maupun saluran air.

Ketika hujan turun, material tersebut berpotensi ikut terbawa bersama aliran air.

Menurut Ismed, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih di wilayah yang mengalami paparan asap karhutla.

Partikulat hasil pembakaran yang mengendap di lingkungan dapat bercampur dengan debu dan material lainnya, serta ikut terbawa aliran air.

Ia juga mengingatkan kejernihan air tidak dapat menjadi satu-satunya indikator keamanan air untuk dikonsumsi.

Air yang tampak bersih tetap perlu dipastikan kualitasnya dan mendapatkan pengolahan yang sesuai untuk kebutuhan minum.

“Untuk air minum, masyarakat tetap harus memastikan kualitasnya memenuhi persyaratan dan melakukan pengolahan yang sesuai,” tuturnya.

Selain kualitas air, kebersihan tempat penampungan juga perlu dijaga.

Wadah air sebaiknya dalam kondisi tertutup dan dibersihkan secara berkala untuk mengurangi risiko pencemaran.

“Aliran awal hujan sebaiknya dibuang terlebih dahulu sebelum air berikutnya ditampung,” ujar Ismed.

Kewaspadaan terhadap hujan pertama bukan berarti seluruh air hujan setelah kemarau atau karhutla otomatis berbahaya.

Persoalannya terletak pada aliran awal yang berpotensi membawa material yang terakumulasi selama musim kemarau, baik di atmosfer maupun pada permukaan atap, talang dan saluran air.

Terlebih, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara.

Material hasil pembakaran dapat mengendap di lingkungan sekitar dan berpotensi terbawa aliran air ketika hujan turun.

Maka itu, masyarakat Samarinda dapat melakukan langkah sederhana dengan membuang aliran awal hujan, membersihkan talang dan memastikan tempat penampungan dalam kondisi bersih serta tertutup.

Untuk air yang akan dikonsumsi, masyarakat juga tidak dianjurkan hanya mengandalkan warna dan bau sebagai indikator keamanan.

Air yang tampak jernih belum tentu memenuhi persyaratan untuk diminum.

Hujan yang kembali turun setelah periode kemarau panjang tentu menjadi momentum yang patut disyukuri.

Namun, masyarakat tetap perlu berhati-hati terhadap aliran awal hujan, terutama setelah periode kemarau dan paparan asap karhutla. (Abi)



Pasang Iklan
Top