• Sabtu, 05 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Usman Ali, pada hari Selasa (14/7/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Cuaca panas yang mulai melanda Balikpapan dalam hampir dua pekan terakhir membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar dan lahan terbuka.

Berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemanfaatan gas metana, kesiapsiagaan petugas, hingga penguatan koordinasi lintas instansi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pemerintah pusat telah meminta seluruh daerah meningkatkan mitigasi kebakaran TPA menyusul sejumlah insiden yang terjadi di beberapa wilayah, salah satunya kebakaran TPA di Banten yang berlangsung selama beberapa hari.

Menurut Sudirman, suhu udara yang tinggi dipadukan dengan akumulasi gas metana menjadi penyebab utama kebakaran di kawasan TPA.

"Kalau cuaca panas dan gas metana menumpuk, potensi kebakaran sangat tinggi. Karena itu kami sudah melakukan berbagai langkah mitigasi," ujarnya, pada hari Selasa, 14 Juli 2026.

Berbeda dengan sejumlah daerah yang masih menerapkan sistem open dumping, TPA Manggar menggunakan sistem sanitary landfill, yakni setiap timbunan sampah ditutup dengan lapisan tanah. Sistem tersebut dinilai mampu menghambat pelepasan gas metana ke permukaan sehingga mengurangi risiko kebakaran.

Selain itu, gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk sekitar 380 rumah tangga. Sebagian gas lainnya dialirkan ke titik flare untuk dibakar secara terkendali sehingga tidak menumpuk di dalam timbunan sampah.

"Gas metana di Balikpapan sudah kita salurkan dan kita manfaatkan. Itu menjadi salah satu langkah utama mengurangi risiko kebakaran di TPA," jelas Sudirman.

Tak hanya mengandalkan sistem pengelolaan sampah, DLH juga menyiapkan langkah darurat apabila terjadi kebakaran. Sebanyak 40 petugas TPA telah dibekali pelatihan penanganan awal melalui kerja sama dengan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Petugas juga memastikan ketersediaan sumber air untuk penanganan awal, melarang aktivitas pembakaran di sekitar TPA, serta melakukan penyiraman area timbunan sampah ketika suhu udara meningkat ekstrem seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau tahun lalu.

"Kalau suhu meningkat tinggi, kami lakukan penyiraman untuk menjaga kondisi tetap aman. Yang paling penting, gas metananya sudah kita kendalikan," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Usman Ali, mengatakan cuaca panas tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran di TPA, tetapi juga di kawasan permukiman dan lahan kosong.

Karena itu, BPBD meningkatkan kesiapsiagaan seluruh personel tanpa mendirikan posko khusus. Seluruh petugas disiagakan di wilayah masing-masing agar dapat bergerak cepat ketika menerima laporan masyarakat.

"Kami sudah berkoordinasi, termasuk dengan daerah lain dan Otorita IKN. Begitu ada laporan, langsung kami tindak lanjuti," ujar Usman.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya pengurus RT, untuk menyimpan nomor layanan darurat pemadam kebakaran agar pelaporan dapat dilakukan secepat mungkin apabila terjadi kebakaran.

Dalam penanganan kebakaran, BPBD juga memperkuat sinergi dengan TNI dan Polri guna mempercepat proses pemadaman maupun evakuasi jika diperlukan.

Saat ini, sistem penanganan tetap dipusatkan di kantor BPBD dengan dukungan enam Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang tersebar di seluruh kecamatan di Balikpapan. Jaringan tersebut dinilai cukup untuk menjangkau seluruh wilayah secara cepat apabila terjadi keadaan darurat. (Las)



Pasang Iklan
Top