• Sabtu, 02 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ketua Kelompok Tani Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Ancaman musim kemarau mulai dirasakan petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Keterbatasan air akibat minimnya hujan membuat sebagian besar lahan pertanian belum bisa kembali digarap, sedangkan petani juga harus menanggung lonjakan biaya panen karena kondisi sawah yang menyulitkan penggunaan alat modern.

Ketua Kelompok Tani Kelurahan Bukit Biru, Suwarman mengatakan, saat ini hanya sebagian kecil petani yang memiliki akses ke sumber air alternatif untuk mulai melakukan persemaian.

Sementara itu mayoritas petani lainnya masih menunggu hujan turun.

“Sebagian yang dekat sumber air masih bisa menyemai, tapi kebanyakan petani di daratan belum bisa tanam karena sepenuhnya mengandalkan hujan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, panen terakhir yang berlangsung sekitar 2 minggu lalu juga penuh tantangan.

Banyak petani tidak dapat menggunakan mesin panen karena kondisi sawah berlumpur dan tergenang, sehingga harus beralih ke metode manual yang jauh lebih mahal.

“Kalau pakai mesin biasanya lebih ringan, tapi kemarin banyak yang tidak bisa karena alat tenggelam. Terpaksa panen manual dan biaya bisa naik 2 kali lipat,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini sangat membebani petani karena biaya operasional meningkat tajam di tengah ketidakpastian musim tanam berikutnya.

Di sisi lain, sektor pertanian sayuran di Bukit Biru masih bertahan karena sebagian besar ditanam di area sekitar parit yang masih memiliki akses air lebih baik.

Komoditas seperti gambas dan sawi masih dipanen rutin oleh kelompok petani sayur setempat.

Bukit Biru sendiri tercatat memiliki 23 kelompok tani, terdiri dari 19 kelompok tani padi, 3 kelompok petani sayur, dan 2 Kelompok Wanita Tani (KWT).

Suwarman mengatakan, pemerintah telah memberikan perhatian melalui upaya pengeboran dan pompa air, namun kapasitas air yang tersedia dinilai belum cukup untuk kebutuhan pertanian skala luas.

“Pompa air sudah dicoba, tapi air cepat habis. Jadi belum bisa jadi solusi utama. Kami berharap ada pembangunan waduk atau penampungan air yang benar-benar bisa dimanfaatkan saat kemarau,” tuturnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, memastikan pihaknya sedang melakukan pendataan intensif terhadap wilayah pertanian terdampak kekeringan.

“Penyuluh kami sudah turun ke lapangan untuk mendata kondisi petani serta kebutuhan mendesak yang diperlukan,” ujarnya.

Rifani mengatakan, hasil pendataan tersebut akan digunakan sebagai dasar pengajuan bantuan ke pemerintah pusat, khususnya untuk alat dan sarana pendukung, seperti pompa air.

“Kalau kebutuhan sudah terpetakan, kami segera usulkan ke pusat. Bantuan seperti pompa memang tersedia untuk penanganan kondisi seperti ini,” katanya.

Meskipun situasi kemarau mulai terasa, Distanak Kukar masih berharap kondisi cuaca hingga Mei dapat membantu petani bertahan dan mengurangi risiko gagal panen.

“Kami masih melihat kemungkinan hujan, jadi peluang tanam dan produksi tetap ada. Yang penting kebutuhan petani bisa segera kami respons,” ucap Rifani. (Dri)



Pasang Iklan
Top