• Senin, 27 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kondisi Bangunan Dayak Experience Centre.(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Keberadaan Museum Budaya Dayak atau yang dikenal sebagai Dayak Experience Centre di Pulau Kumala masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Bangunan yang diresmikan pada tahun 2016 tersebut tetap mempertahankan ciri khas arsitektur suku Dayak yang unik dan penuh nilai budaya. Namun, di balik keindahannya, kondisi perawatan bangunan kini mulai menjadi perhatian.

Terletak di tengah Pulau Kumala, kawasan ini memiliki sejumlah bangunan dengan desain tradisional Dayak yang khas, lengkap dengan ukiran dan motif etnik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Dulu, tempat ini tidak hanya menampilkan bangunan, tetapi juga aktivitas budaya suku Dayak yang hidup dan menarik. Kini, aktivitas tersebut sudah jarang terlihat.

Salah satu pengunjung, Dina Lestari, mengungkapkan kesannya saat berkunjung ke lokasi tersebut.

"Bangunannya masih berdiri kokoh dan terlihat utuh, tapi memang ada beberapa bagian yang sepertinya perlu diperbaiki. Kayu-kayunya ada yang sudah usang," ujarnya pada KutaiRaya.com, Kamis (23/4/2026).

Meski begitu, ia tetap mengapresiasi keindahan bangunan yang masih mempertahankan ciri khas Dayak.

"Motif-motif khasnya itu masih terlihat jelas dan menarik. Itu yang jadi daya tarik utama di sini," tambahnya.

Menurutnya, permasalahan utama terletak pada perawatan bangunan yang dinilai kurang maksimal.

"Ya, cuma kekurangannya satu, perawatannya saja yang menurut saya masih kurang. Harapannya ke depan bisa diperbaiki dan lebih diperhatikan," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu penjaga yang tak mau disebutkan namanya. Ia mengaku, kondisi bagian dalam bangunan memang kurang terawat.

"Memang benar, kalau bagian dalamnya terlihat agak kacau dan tidak terurus," sebutnya.

Ia juga berharap adanya perhatian lebih dari pihak terkait, tidak hanya pada bangunan museum, tetapi juga fasilitas lain di Pulau Kumala.

"Bukan cuma di sini, dulu ada penginapan dan beberapa wahana juga. Sekarang banyak yang terbengkalai. Harapannya semua bisa diperbaiki lagi," sebutnya

Sementara itu, dari sisi Pemerintah Daerah melalui Dispar Kukar memastikan, upaya perawatan kawasan Pulau Kumala, termasuk Museum Dayak atau Dayak Experience Centre, mulai dilakukan secara bertahap pada tahun 2026.

Kabid Destinasi Wisata Dispar Kukar, Ridha Fatrianta mengaku, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam melakukan perbaikan secara menyeluruh.

Ia menyebutkan, alokasi dana pemeliharaan tahun ini masih harus dibagi ke sejumlah destinasi wisata lain di Kukar.

"Untuk pemeliharaan tahun ini memang sudah ada anggaran, tetapi jumlahnya terbatas dan tidak hanya difokuskan ke Pulau Kumala. Anggaran tersebut juga digunakan untuk beberapa lokasi lain seperti Taman Tanjong, Planetarium, Jam Bentong, hingga Waduk Panji," jelasnya.

Ia menerangkan, dengan keterbatasan tersebut, pihaknya saat ini memprioritaskan aspek kebersihan dan keamanan kawasan wisata dibandingkan pembangunan atau penggantian fasilitas baru.

"Fokus kami sementara ini pada perawatan dasar, seperti kebersihan dan pengamanan objek wisata. Untuk pembangunan atau penambahan fasilitas baru, memang belum bisa dilakukan tahun ini," tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, sistem kerja petugas di lapangan dilakukan secara bergilir karena jumlah tenaga yang terbatas. Hal ini berdampak pada belum meratanya penanganan di seluruh area Pulau Kumala.

"Petugas kami ada setiap hari, tapi memang harus bergilir karena jumlahnya minim. Jadi ada area yang mungkin belum sempat tertangani secara maksimal dalam waktu tertentu, anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan pada wisata di 2026 ini mencapai 1,2 M," pungkasnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top