• Jum'at, 13 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kegiatan Haflah Akhirussanah/Wisuda Santri, Sholat Maghrib Berjamaah & Buka Puasa Bersama Yayasan Saunah Kaltim (Foto : Andri wahyudi/kutairaya)

TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Yayasan Sauanah Kalimantan Timur menggelar Haflah Akhirussanah atau wisuda santri yang dirangkai dengan sholat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama di halaman kantor yayasan, Jalan Mawar RT 12, Kelurahan Sukarame, Tenggarong, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan ini menjadi momen haru, sekaligus penuh kebahagiaan bagi para santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an mereka.

Acara ini juga dihadiri para pembina, ustaz, orangtua santri, serta para donatur yang selama ini mendukung kegiatan pendidikan di yayasan tersebut.

Ketua Pembina Yayasan Sauanah Kaltim, Santi Mariana mengatakan, kegiatan wisuda tahun ini diikuti sekitar 30 lebih santri, dengan 4 orang di antaranya telah menyelesaikan hafalan hingga 30 juz.

"Untuk santri yang wisuda tahun ini sekitar 30 orang lebih. Dari jumlah itu ada 4 santri yang sudah menyelesaikan hafalan 30 juz, sementara yang lainnya memiliki hafalan beberapa juz," ujarnya.

Ia menjelaskan, para santri yang belajar di rumah tahfiz tersebut tetap mengikuti pendidikan formal seperti sekolah pada umumnya.

Namun aktivitas mereka lebih difokuskan pada program menghafal Al-Qur’an.

"Selain menghafal Al-Qur’an, mereka tetap sekolah secara resmi. Hanya saja kehadiran di sekolah biasanya saat ulangan atau kegiatan tertentu, karena fokus utama mereka adalah hafalan," tuturnya.

Santi mengemukakan, Yayasan Sauanah berawal dari kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang berdiri pada 2017 dengan jumlah santri sekitar 8 orang.

Seiring waktu dan adanya dukungan dari berbagai pihak, kegiatan tersebut berkembang hingga akhirnya didirikan rumah tahfiz.

"Awalnya kami membentuk TPA untuk anak-anak di sekitar lingkungan. Setelah itu muncul niat dari almarhum pendiri bersama beberapa rekan untuk membangun rumah tahfiz, sehingga akhirnya berdirilah yayasan ini," ucapnya.

Menurutnya, para santri yang belajar di Yayasan Sauanah berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kutai Kartanegara, tetapi juga dari wilayah lain, seperti Kutai Timur dan daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Menariknya, seluruh kegiatan pendidikan di yayasan tersebut tidak dipungut biaya.

Operasional yayasan sepenuhnya didukung oleh para donatur.

"Alhamdulillah sejak berdiri hingga sekarang tidak ada pungutan biaya dari santri. Semua murni dari para donatur yang membantu keberlangsungan rumah tahfiz ini," katanya.

Setiap tahunnya, jumlah santri yang diwisuda bervariasi.

Namun rata-rata sekitar 3 hingga 4 santri berhasil menuntaskan hafalan 30 juz.

Ia berharap para santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi juga melanjutkan pendidikan akademik yang lebih tinggi.

"Kami berharap generasi dari Yayasan Sauanah ini tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga berprestasi di bidang akademik. Siapa tahu nanti ada yang kuliah di Madinah atau menjadi dokter melalui jalur pendidikan," tuturnya.

Sementara itu salah seorang santri, Fahtar Ikhsan, mengaku perjalanan menghafal Al-Qur’an bukanlah hal yang mudah.

Ia dan teman-temannya harus melewati berbagai tantangan, sebelum akhirnya sampai pada hari wisuda.

"Kami masih ingat ketika pertama kali menghafal ayat demi ayat. Terkadang terasa berat, sering lupa, dan harus mengulang berkali-kali. Ada hari ketika kami semangat, tetapi ada juga saat kami merasa lelah dan hampir menyerah," ujarnya.

Menurut Fahtar, peran para ustaz dan ustazah sangat besar dalam membimbing para santri hingga mampu menyelesaikan hafalan mereka.

"Dengan sabar mereka membimbing kami, memperbaiki bacaan kami, dan mengingatkan bahwa setiap huruf yang kami baca adalah pahala dari Allah SWT," ucapnya.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orangtua yang selalu mendoakan dan mendukung mereka selama proses menghafal Al-Qur’an.

"Hari ini kami ingin mengatakan bahwa semua hafalan yang kami capai tidak akan terwujud tanpa doa ayah dan ibu. Semoga melalui Al-Qur’an yang kami hafal, Allah memuliakan orangtua kami dengan mahkota cahaya di surga," katanya.

Fahtar menegaskan khatam Al-Qur’an bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai penghafal Al-Qur’an.

"Bagi kami, khatam bukanlah akhir. Justru ini adalah amanah untuk menjaga hafalan, mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi pribadi yang berakhlak baik," tuturnya. (dri)



Pasang Iklan
Top