
Koleksi-koleksi yang berada di Museum Kayu Tuah Himba.(Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Walaupun minim pengunjung, Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong justru menyimpan pesona yang tak boleh diremehkan. Apalagi saat ini mau masuk bulan Ramadhan.
Museum ini terletak di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong. Museum ini menawarkan kita pada edukasi dan sejarah yang lengkap hanya dengan tiket masuk Rp10 ribu per orang.
Dengan uang segitu, pengunjung bisa menyaksikan beragam koleksi bersejarah. Mulai dari senjata-senjata kuno yang digunakan pada masa peperangan, aneka jenis kayu khas Kalimantan, hingga peninggalan prasejarah.
Namun, yang paling membuat pengunjung tau dengan ciri khas museum ini, terdapat dua buaya raksasa yang telah diawetkan dan menjadi ikon museum ini.
Salah satu pengunjung mahasiswa, Abid Shiddiq Mustofa, mengaku kagum dengan koleksi yang ada di museum tersebut, terutama buaya berukuran super besar yang dipajang di dalam ruangan.
"Ada dua buaya, bagus banget. Saya baca sih dulu pernah memakan korban, dan sekarang diawetkan. Super duper besar menurut saya, yang pernah saya lihat di sini," ujarnya pada Kutairaya.com, Rabu(18/2/2026).
Buaya tersebut memang menjadi daya tariknya. Selain ukurannya yang mencengangkan, kisah masa lalunya membuat pengunjung merinding sekaligus penasaran. Kini, hewan tersebut telah diawetkan dan dijadikan sarana edukasi.
Tak hanya Abid, mahasiswa lain yang bersama Abid, Rivaldo Alamsyah juga mengaku terkesan dengan suasana museum.
"Saya senang lihat barang-barang kuno. Ada jenis-jenis kayu, ada senjata juga. Entah itu asli dari zaman dulu atau tidak, tapi suasananya benar-benar terasa seperti zaman dulu," ucapnya.
Menurut mereka, museum ini sangat direkomendasikan sebagai tempat belajar sekaligus rekreasi. Apalagi selama bulan Ramadan, Museum Kayu Tuah Himba bisa menjadi pilihan menarik untuk ngabuburit yang bermanfaat.
Daripada sekadar menunggu waktu berbuka, pengunjung bisa menambah wawasan sejarah dan budaya daerah.
Walaupun begitu, museum ini masih tergolong sepi pengunjung. Padahal, tempat ini bisa menjadi pusat pembelajaran sejarah lokal bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
"Dengan biaya yang ramah di kantong dan koleksi yang unik, Museum Kayu Tuah Himba layak mendapat perhatian lebih," tukasnya. (*Zar)