• Jum'at, 20 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pelaksanaan Ogoh Ogoh di Tenggarong. (Foto : Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Suasana bulan suci Ramadan di Kukar tepatnya di Jalan Loa Ipuh Kecamatan Tenggarong terasa berbeda.

Malam itu, terlihat cahaya obor dan patung raksasa yang dibawa keliling, pemandangan ini bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna toleransi antarumat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu. Ketua PHDI Kukar, I Nyoman Surada menjelaskan, prosesi tersebut adalah lanjutan dari ritual sebelumnya.

"Ini rangkaian kegiatan Nyepi. Kemarin sudah melasti, hari ini bagian dari Taur Kesanga. Tadi pagi sudah dilaksanakan, dan malam ini pawai obor serta ogoh-ogoh," ujarnya pada awak media, Rabu (18/3/2026).

Rute pawai ini dimulai dari Pura Payoga Agung Kutai, melintasi kawasan Sangkulirang, stadion rondong demang, Selendreng, lalu kembali lagi ke pura. Meski jumlah umat Hindu yang terlibat sekitar seratus orang, antusias warga sekitar membuat kegiatan ini semakin semarak.

"Kalau dari umat kami sekitar seratusan, tapi masyarakat sekitar bisa mencapai 200 orang. Kami sangat berharap dukungan masyarakat untuk menyaksikan," tambahnya.

Ogoh-ogoh yang dibuat bukansekedar biasa. Dalam tradisi Hindu, ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat buruk manusia seperti keserakahan dan ketamakan. Wujudnya yang menyeramkan menggambarkan energi negatif yang harus disucikan.

"Maknanya dari tahur tadi, yaitu menyeimbangkan alam. Ogoh-ogoh ini untuk mengusir roh-roh jahat," jelasnya.

Menariknya, kegiatan ini tetap dilaksanakan di tengah bulan Ramadhan. Namun, pihajnya dengan penuh kesadaran melakukan penyesuaian waktu sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang sedang beribadah.

"Kami sangat menghargai Ramadan. Karena itu, kegiatan dimundurkan, dimulai sekitar pukul setengah sembilan malam," katanya.

"Ini sudah tradisi setiap tahun. Bahkan masyarakat sekitar meminta agar ogoh-ogoh tetap dilaksanakan sebagai hiburan tahunan," imbuhnya.

Momen ini menjadi simbol kebersamaan. Di tengah perbedaan, masyarakat Kukar menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi nyata dalam tindakan.

"Kalau di Bali ada istilah tamu, di sini kita juga saling silaturahmi. Harapannya, kebersamaan ini terus terjaga," tutupnya. (*Zar)

Pasang Iklan
Top