
Anggota Sanggar Tari Maminasa.(Foto: Dok. Sanggar Tari Maminasa)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Upaya untuk melestarikan seni dan budaya Bugis terus dilakukan di Kukar. Salah satunya melalui Sanggar Tari Maminasa yang berada di Kelurahan Bukit Merdeka, Kecamatan Samboja Barat.
Sanggar ini aktif menampilkan berbagai tarian tradisional Bugis sekaligus memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan kepada generasi muda.
Pembina Sanggar Tari Maminasa, Erliana menceritakan, untuk sanggar ini terbentuknya berawal dari anak-anak disekitarnya yang hobi menari.
"Awalnya itu memang dari anak-anak yang suka menari. Sering ada acara di daerah, lalu kami tampilkan. Lama-lama mereka minta dibantu latihan supaya lebih serius, bukan sekadar hobi saja," ujar Erliana pada Kutairaya.com, saat dihubungi, Kamis (22/1/2026).
Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut kemudian diberi nama Sanggar Tari Maminasa. Nama ini mulai digunakan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Nama Maminasa berasal dari bahasa Bugis yang berarti mengharap kebaikan. Nama ini dipilih sebagai doa dan harapan agar Sanggar ini selalu membawa hal-hal baik.
Sanggar Tari Maminasa fokus pada tarian-tarian etnis Bugis, contohnya seperti Tari Pakdupa, yaitu tarian penyambutan untuk tamu penting, pengantin, atau acara resmi. Selain itu, sanggar ini juga menampilkan Tari Empat Etnis yang menggabungkan unsur budaya Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja dalam satu pertunjukan.
"Tari Empat Etnis ini biasanya untuk hiburan, karena di dalamnya ada empat suku yang ada di Sulawesi Selatan. Jadi digabung jadi satu tarian," ucapnya.
Untuk jumlah anggota, Sanggar Tari Maminasa awalnya hanya beranggotakan sekitar lima hingga enam orang. Namin kini, jumlah penari masih berkisar antara lima hingga tujuh orang, dengan total anggota tetap sekitar sepuluh orang.
Sanggar Tari Maminasa sendiri sudahh beberapa kali tampil di berbagai acara, salah satunya di anniversary Lakeview Samboja Barat pada 2026.
Ia berharap, komunitas ini bisa terus berkembang, semakin dikenal , dan memiliki lebih banyak kesempatan tampil di berbagai daerah.
"Dengan begitu, para penari bisa mendapatkan pengalaman lebih banyak sekaligus menjaga dan melestarikan seni budaya Bugis agar tetap hidup," tutupnya. (*zar)