• Jum'at, 20 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Disdikbud Kutai Kartanegara



Festival Tunas Bahasa Ibu Kukar 2025.(Foto:Indir/Kutairaya)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2025 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menghadirkan suasana berbeda. Selain fokus pada pelestarian bahasa daerah, kegiatan ini juga menonjolkan seni tradisi lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Kutai.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menjelaskan bahwa cabang lomba FTBI tahun ini meliputi Tingkilan, Tarsul, Jepen, dan Lagu Daerah. Semua kategori tersebut mengedepankan penggunaan bahasa Kutai sebagai pengantar sekaligus menampilkan kekayaan seni budaya khas Kutai.

"Melalui lomba-lomba ini kita ingin anak-anak tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mengenal dan mencintai seni tradisi lokal. Karena bahasa dan seni adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Kutai," ujar Puji, Kamis (4/9/2025).

Ia menambahkan, seni tradisi seperti Tingkilan atau Jepen merupakan warisan yang sarat makna dan identitas. Dengan memasukkannya ke dalam cabang lomba FTBI, diharapkan generasi muda semakin dekat dengan akar budayanya.

"Kalau tidak kita ajarkan sejak dini, anak-anak bisa semakin jauh dari tradisi ini," katanya.

Menurut Puji, penggunaan bahasa Kutai dalam seni tradisi juga menjadi cara efektif untuk memperkuat daya tarik bahasa daerah di kalangan anak-anak. Mereka bukan hanya bertutur kata, tetapi juga mengekspresikan diri melalui lagu dan tarian.

Suasana lomba FTBI Kukar 2025 pun berlangsung meriah. Para peserta dari tingkat SD dan SMP tampil penuh percaya diri membawakan seni tradisi Kutai di atas panggung. Dukungan dari guru dan orang tua turut menambah semangat mereka dalam menunjukkan kemampuan terbaik.

"Antusiasme luar biasa, baik dari peserta maupun pendukung. Guru-guru dan orang tua ikut menjadi supporter, sehingga acara ini terasa hidup dan penuh energi positif," jelas Puji.

Selain melestarikan bahasa dan seni tradisi, FTBI juga menjadi ajang mempererat kebersamaan masyarakat. Melalui interaksi antarsekolah dan antardaerah, tercipta ruang saling belajar tentang ragam dialek dan ekspresi seni Kutai.

Puji menegaskan bahwa target utama FTBI bukan semata-mata juara, melainkan membudayakan anak-anak agar terbiasa menggunakan bahasa Kutai dalam berbagai aspek kehidupan.

"Kalau mereka sudah berani tampil di panggung dengan bahasa dan seni Kutai, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri," ujarnya.

Dengan menghadirkan cabang lomba seni tradisi lokal, FTBI Kukar 2025 tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga wahana pembelajaran budaya. Disdikbud Kukar berharap kegiatan ini bisa mencetak generasi muda yang bangga, percaya diri, dan cinta terhadap bahasa serta seni tradisi daerahnya. (adv)



Pasang Iklan
Top