
Penampilan Reog Ponorogo Karyo Singo Yudho di Kelurahan Maluhu (Foto:Andri Wahyudi/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Kesenian Reog Ponorogo Karyo Singo Yudho asal dari Kelurahan Maluhu, menjadi satu-satunya kesenian reog di Kecamatan Tenggarong dan tetap eksis melestarikan budaya di Tanah Kutai.
Kesenian yang ada sejak tahun 1970 sempat vakum di tahun 2002 dan di tahun 2024 kembali aktif.
Ketua Kesenian Reog Ponorogo Karyo Singo Yudho Syukur Eko Budi Santoso mengatakan, kesenian reog ini telah ada sejak masa transmigrasi di Kelurahan Maluhu.
"Karyo singo yudho baru saja bangkit dari vakum karena Ketua terdahulu meninggal dunia, dan saat ini masih berbenah dan bangkit kembali untuk melestarikan budaya reog di Tenggarong," ujarnya.
Kesenian ini masih dapat ruang di masyarakat, karena masih banyak penggemar dan kebetulan untuk di Tenggarong saat ini, satu-satunya kesenian reog yang masih aktif.
"Dan saya ini merupakan generasi ketiga sebagai penerus kesenian reog ini. Untuk pelaku seni yang ada di Karyo Singo Yudho ada sebanyak 30 orang. Kalau untuk segala perizinannya sudah lengkap," kata Eko Jumat (15/8/2025).
Eko mengungkapkan, kesenian ini memerlukan keahlian khusus, sehingga perlu regenerasi untuk bisa tetap melestarikan budaya kedepannya. Ia berharap, untuk anak-anak muda yang memang memiliki jiwa seni dan menyukai, sebaiknya untuk gabung dan giat berlatih.
"Untuk pelestarian sendiri harapan kami seperti itu. Terutama untuk anak-anak muda, karena yang tua-tua nanti habis, tak ada generasi dan nanti saya khawatir kesenian ini akan punah," jelasnya.
Eko menjelaskan, untuk tetap menjaga kesenian reog, ia bersama anggota di Karyo Singo Yudho mengadakan latihan satu kali dalam seminggu.
"Sementara untuk penampilan, selama ini kami banyak partisipasi untuk kepentingan dalam rangka kegiatan di pemerintah. Di ulang tahun Kelurahan Maluhu, sering juga menampilkan di pentas perayaan bulan suro. Kemudian kami waktu itu juga ikut di kirab budaya, kemudian kami juga pernah diundang tampil untuk peringatan hari ulang tahun Ika Pakarti, dan lain-lain," tuturnya.
Dan sepanjang kesenian reog diperlukan, ia siap, baik tampil dalam melestarikan budaya di Kukar. Bahkan pemerintah daerah juga telah memberikan perhatian pada kesenian ini.
"Artinya perhatian sudah baik sekali untuk kesenian yang ada di Tenggarong atau di Kukar, khususnya pemerintah daerah sudah bagus sekali dukungannya. Biasanya tergantung para penggerak seni saja, mau atau tidak terus giat latihan untuk melaksanakan budaya itu," imbuhnya.
Ia berharap, untuk kesenian reog ini tetap lestari, tetap berkembang dan meningkatkan kemampuannya, serta bisa berjaya kembali seperti dahulu kala.
"Intinya kami berharap agar kesenian di Tenggarong bukan hanya reog saja, tapi juga yang lain bisa bersama-sama berkembang dan melestarikan budaya agar tidak punah," tutupnya. (Dri)