• Senin, 16 Februari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Penonton berfoto bersama seusai pemutaran perdana Bioskop Terapung Tiga Danau di Citra Niaga, Samarinda, Rabu malam (18/6/2025).


SAMARINDA(KutaiRaya.com) Proyek Bioskop Terapung Tiga Danau resmi dibuka melalui pemutaran film perdana yang digelar di kawasan Citra Niaga, Samarinda, Rabu malam (18/6/2025).

Sekitar 300 penonton dari berbagai latar belakang memadati lokasi pemutaran film di ruang terbuka tersebut.

“Antusias penonton luar biasa. Saya pikir karena ini hari pertama, tidak akan seramai ini. Ternyata di luar ekspektasi, banyak yang hadir, dari ibu-ibu hingga bapak-bapak. Terima kasih sudah datang menonton,” ujar Director Festival, Al Fayed Muhammad.

Setelah pembukaan di Samarinda, pemutaran film akan berlanjut ke beberapa daerah lain. Kota Bontang menjadi tujuan berikutnya pada 22 Juni 2025, bertempat di ruang publik Bontang Kuala. Selanjutnya, pemutaran akan berlangsung di tiga lokasi danau: Danau Semayang pada 20 Juli, Danau Melintang pada 22 Juli, dan Danau Jempang pada 24 Juli 2025.

Setiap sesi pemutaran mengusung konsep terbuka dan interaktif, dipadukan dengan diskusi yang melibatkan seniman, komunitas, dan penonton. Menurut Fayed, proyek ini membawa gagasan perjalanan kembali ke hulu sebagai cara untuk meninjau ulang akar identitas.

"Secara filosofis, kita yang tinggal di Samarinda ini sebagai kota di hilir Kalimantan Timur ingin kembali ke hulu. Kita ingin mempelajari ulang asal-usul masyarakat dan kehidupan kita. Ini upaya untuk berefleksi," jelasnya.

Dari total 24 film yang dikurasi, setiap daerah akan memutar film yang berbeda-beda. Pemilihan film disesuaikan dengan konteks sosial dan keresahan lokal masing-masing wilayah.

"Film yang diputar di Bontang, Balikpapan, maupun di tiga danau, semuanya berbeda. Kami memilih film berdasarkan keresahan lokal masing-masing wilayah," tambah Fayed.

Lebih dari sekadar ruang pemutaran, Bioskop Terapung Tiga Danau dirancang sebagai ruang sinema alternatif yang menjembatani kota dan desa, hilir dan hulu, serta masa kini dan masa lalu, melalui medium seni dan ruang dialog bersama. (skn)



Pasang Iklan
Top