• Selasa, 16 April 2024
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



Rapat koordinasi pengembangan pusat keunggulan Bidaya Kalimantan dan Sosialisasi pelestarian Naskah Kuno


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), membuka acara Koordinasi Pengembangan Pusat Keunggulan Budaya Kalimantan dan Sosialisasi Pelestarian Naskah Kuno. Bertempat di Kantor Perpustakaan Daerah Kukar Kamis (20/7/23).

Acara yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala DPK Kaltim M Syafranuddin, Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI Sri Sumekar, Kepala DPK Kukar Aji Lina Rodiah, Kepala Perpustakaan se-Kalimantan.

Salah satu tujuan utama dari acara ini adalah mengimplementasikan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 78a Tahun 2011 tentang Penetapan 6 center of excellent layanan perpustakaan dan Informasi Budaya Lokal.

Sekda Kukar Sunggona mengatakan Pusat Budaya Keunggulan Kaltim merupakan pusat budaya yang lahir di masing-masing daerah, dan beberapa budaya lokal di Tenggarong, Kukar, telah diangkat hingga tingkat nasional, seperti budaya seni tari, seni rupa, seni patung, dan lainnya.

"Kami berharap bahwa melalui acara ini, akan ditemukan hal-hal baru yang berkaitan dengan skrip dan budaya kuno yang sebelumnya belum tergali dan diketahui oleh pihak lain. Selain itu, diharapkan bahwa acara tersebut akan mengungkapkan kekayaan budaya yang selama ini belum tereksplorasi." ungkapnya.

Kepala DPK Kaltim, M. Syafranuddin, menjelaskan bahwa acara koordinasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mengenai budaya yang ada di Kalimantan. Kaltim telah ditunjuk sebagai Center Of Excellent Se Kalimantan sejak tahun 2012.

Rakor ini juga dimaksudkan untuk mengevaluasi tindak lanjut dan perkembangan Center Of Excellent yang ditemban Kaltim, karena sejarah merupakan hal terpenting bagi pembangunan bangsa. Maka dari itu, evaluasi perlu dilakukan agar pengetahuan sejarah tidak hilang dan dapat terus dipahami oleh generasi yang akan datang.

Salah satu contoh sejarah yang berada di luar negeri adalah Putri Petung, yang datanya ada di Belanda. Meskipun datanya sudah diserahkan kembali ke Pemerintah Republik Indonesia, masih ada banyak sejarah lainnya yang belum diketahui dengan baik oleh masyarakat,

"Dan hal ini harus diperhatikan agar pengetahuan sejarah tetap lestari dan terus dipelajari oleh generasi mendatang." tutupnya. (*dri)

Pasang Iklan
Top