• Kamis, 22 Februari 2024
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



(Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Akhmed Reza Fachlevi)


SAMARINDA (KutaiRaya.com) - Adanya keluhan dari beberapa orang tua siswa khususnya di wilayah Kutai Kartanegara pada masa pendaftaran siswa baru soal adanya pembelian buku dan seragam sekolah, yang dinilai memberatkan orang tua siswa ditanggapi serius Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Akhmed Reza Fachlevi.

Legisltor Karang Paci yang juga dari Dapil Kukar ini pun berharap, agar semua pihak bisa bersikap bijak.

"Saat ini Indonesia secara umum, belum pulih dari pandemi Covid 19. Karena itu wajar kalau ada orang tua keberatan dan tidak mampu kalau disuruh beli seragam dan buku sekolah. Sebab belum semua orang tua siswa sudah bangkit dari krisis ekonomi yang menyertai pandemi, " ungkap Reza sapaan akrabnya.

Politisi muda Gerindra ini mengaku, setiap keputusan terutama terkait pembelian buku dan seragam, perlu melibatkan komite orang tua murid. Adakan pertemuan atau diskusi terbuka untuk membahas isu ini dan mencari solusi terbaik untuk semua pihak yang terlibat.

"Buku dan seragam sebetulnya juga perlu bagi siswa untuk kelancaran proses pendidikan. Seragam diperlukan agar tidak ada perbedaan status sosial akibat pakaian atau penampilan. Seragam bisa mendorong rasa persatuan dan mengurangi tekanan pada murid yang minder karena perbedaan penampilan seandainya sekolah pakai baju bebas, " tuturnya.

Ia mengatakan, seragam sekolah juga jadi sarana membangun identitas sekolah. Saat murid pakai seragam yang sama, juga menjadi bagian dari upaya menghargai nilai yang diterapkan sekolah.

Walaupun lanjutnya, segaram dan buku memang penting tapi seragam yang digunakan sebaiknya tidak terlalu membebani orang tua siswa. Begitu juga dengan buku pelajaran, sebaiknya ada konsistensi penggunaan buku.

"Misalnya buku kakak kelas, bisa dipakai adik kelasnya. Itu salah satu sikap bijak yang perlu diutamakan oleh sekolah, " imbuhnya.

Ia menambahkan,dalam hal ini pada prinsipnya yalni pihak sekolah harus tetap mempertimbangkan situasi finansial dan kebutuhan individu para murid. Akan lebih baik jika pihak sekolah menyediakan program bantuan bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan seragam dan buku. Ini dapat melibatkan bantuan keuangan atau program pertukaran buku yang sudah tidak digunakan oleh murid-murid sebelumnya.

"Pokoknya, semua pihak harus bijak menyikapi. Harus ada keseimbangan antara kebutuhan murid, orang tua, dan kepentingan sekolah. Komunikasi dan transparansi antara semua pihak yang terlibat sangat diperlukan untuk mencapai solusi lebih baik, " tutup Reza. (One)

Pasang Iklan
Top