• Kamis, 29 Februari 2024
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



(Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fahutan Unmul, Sarkowi V Zahry)


SAMARINDA (KutaiRaya.com) - Persoalan pemberian bantuan melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh perusahaan tambang di Kalimantan Timur kepada perguruan tinggi di luar Kaltim mengundang perhatian organisasi alumni di Universitas Mulawarman (Unmul). Adalah Ikatan Alumni Fakultas Kehutanan Unmul menyayangkan dan kecewa dengan penyaluran CSR yang tidak tepat sasaran tersebut.

"Filosofinya, perusahaan itu kan mengeksploitasi sumberdaya alam Kaltim, ada risiko lingkungan dan sosial pada masyarakat sekitar lokasi tambang. Istilahnya CSR jangan keluar dari orbitnya," kata Sarkowi V Zahry, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fahutan Unmul, menyoroti pemberitaan CSR untuk Universitas Indonesia (UI) Rp50 miliar, Institut Teknologi Bandung (ITB) Rp100 miliar dan Universitas Gajah Mada (UGM) Rp50 miliar.

Menurut Sarkowi, sangat tidak adil dan melukai hati masyarakat Kaltim, karena keuntungan diperoleh dari Kaltim. Sudah semestinya perguruan tinggi di Kaltim dan mahasiswa Kaltim yang menjadi prioritas. Apalagi pelajar dan mahasiswa yang berada di sekitar tambang tentunya lebih diprioritaskan lagi.

"Oleh karena itu, kami menyarankan Bapak Gubernur Kaltim melakukan evaluasi Program CSR perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim dimulai perusahaan tambang yang sedang jadi sorotan," kata Sarkowi lagi.

Sarkowi khawatir, pemberian CSR ke luar Kaltim ini sudah berlangsung lama, namun baru diketahui publik. Padahal seharusnya bukan hanya CSR, perusahaan harus mempunyai program yang jelas terhadap sektor sektor lain seperti penanggulangan bencana, perbaikan lingkungan dan lain lain.

"Dengan evaluasi Program CSR akan jelas programnya untuk apa dan untuk siapa, seberapa besar porsinya serta bagaimana efektivitasnya," kata Sarkowi lagi.

Sarkowi juga heran dengan pemberian CSR keluar Kaltim ini. Perlu diketahui lebih banyak sebagai bahan evaluasi dan menjawab banyak pertanyaan.

"Ini kan janggal ya, apakah ada unsur kesengajaan perusahaan memang kurang peduli perguruan tinggi di Kaltim? Atau di perusahaan itu tidak ada alumni perguruan tinggi di Kaltim yang bisa memberi saran, atau penyebab lain. Ini perlu dicari tau jawabannya untuk evaluasi semua," kata Sarkowi yang juga Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Lingkungan Unmul ini. (One)

Pasang Iklan
Top