• Minggu, 03 Juli 2022
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



Apel Siaga TPK secara virtual

TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Kamis 12 Mei 2012 hari ini mengikuti Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Bergerak secara virtual, yang diikuti TPK Se-Indonesia. Bertempat di Ruang Serbaguna Kantor Bupati.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kukar H Rendi Solihin beserta jajaran Forkompimda.

Kepala DP2KB Kukar Adianur mengatakan kegiatan Apel Siaga serentak dilakukan di seluruh Indonesia yang diikuti oleh TPK se Indonesia, jadi untuk Kukar TPK berjumlah 477 dengan personil sebanyak 1431 orang yang sudah terbentuk sejak bulan Oktober 2021 lalu. satu tim TPK terdiri dari tiga orang, satu bidan, satu PKK dan satu dari kader KB.

Adianur menyebut angka stunting di wilayah Kukar menurut data dari data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) sekitar 26 persen artinya masih tinggi. Dikatakan Adinur, kalau 25 persen , artinya setiap kelahiran 100 bayi ada 25 orang yang kemungkinan rentan stunting, itu cukup banyak.

"Nantinya secara masif TPK akan bergerak kelapangan, saya yakin angka stunting di Kukar pasti berhasil kita turunkan." ujar Adianur usai kegiatan Apel Siaga TPK Bergerak.

Dikatakan Adianur bahwa Presiden Joko Widodo meminta kepada Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)RI sebagai ketua pencegahan stunting RI, pada tahun 2024 di akhir masa pemerintahan Presiden Jokowi, angka stunting di Indonesia harus turun 14 %.

"Sekarang angka stunting Indonesia masih tinggi sekitar 26 % artinya setiap 4 kelahiran ada satu yang rentan stunting. Mudah-mudahan kita semua termasuk media ikut berperan dalam membantu memberikan informasi terkait stunting untuk membantu pemerintah, karena harapan kita kedepan setelah 100 tahun Indonesia merdeka kualitas penduduk itu akan baik. " bebernya.

Dia juga mengungkapkan sekarang ini Indonesia juga sedang bersaing dengan negara tetangga seperti Malasiya dan Singapura masih kalah juga kualitasnya.

Karena ternyata stunting itu mempengaruhi pola dan daya pikir, kesehatan anak kalau nanti ada anak yang lahir stunting akan mempengaruhi kesehatan apabila sudah dewasa, menurut survei BKKBN RI akan membebani pengeluaran APBN negara, sehingga untuk menekan stunting ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

"Tapi kalau stunting kita kecil bahkan nanti anak-anak yang berkualitas akan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru dan perekonomian Indonesia akan maju. Target kita setiap tahun itu bisa menurunkan angka stunting 3,5 persen sehingga pada 2024 bisa mencapai target seperti yang diminta Presiden Joko Widido bahkan lebih dari itu." tutupnya. (*dri/adv)

Pasang Iklan
Top