• Rabu, 06 Juli 2022
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara





TENGGARONG (KutaiRaya.com) - Tujuan pemasyarakatan tidak hanya sekedar pulihnya hubungan hidup dan kehidupan warga binaam pemasyarakatan (WBP) saja namun juga dari aspek penghidupannya kelak jika WBP tersebut selepas menjalani pidananya. Salah satunya dengan memberikan pelatihan kemandirian bagi WBP sebagai bekal dalam menjalani reintegrasi sosialnya.

Pada tahun anggaran 2022, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tenggarong melaksanakan sebanyak 24 kegiatan, namun pada tahap awal ini sebanyak 12 kegiatan yang akan dilaksanakan terlebih dahulu.

"Hal ini disebabkan karena adanya pencadangan anggaran belanja
(Automatic Adjustment) Satuan Kerja Unit
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan," ujar Jumari Kepala Seksi Kegiatan Kerja.

Dari sisi kuantitas, program pelatihan pelatihan kemandirian yang diberikan kepada WBP tiap tahunnya berbeda-beda.

"Pada tahun 2020 kami melaksanakan sebanyak 22 kegiatan, lalu ditahun 2021 sebanyak 12 kegiatan dan pada tahun 2022 disiapkan sebanyak 24 kegiatan," imbuh Jumari.

Pada tahap pertama kegiatan ini, Lapas Kelas II A Tenggarong menyiapkan sebanyak 240 orang WBP yang akan mengikuti 12 jenis pelatihan dengan melibatkan 36 orang instruktur yang memiliki sertifikasi dibidangnya masing-masing.

Zairin Zain Kepala Subseksi Kegiatan Kerja menerangkan bahwa pada tahap pertama ini pelatihan yang dilaksanakan meliputi barista, kuliner, otomotif, pertukangan, desain grafis, menjahit, etalase alumunium, meubelair, dan barbershop.

"Ada beberapa kegiatan yang kami laksanakan beberapa kali dikarenakan akan menjadi produk unggulan dari lapas tenggarong diantaranya meubelair, desain grafis dan pertukangan," ujar Zairin.

Lapas Kelas II A Tenggarong bekerjasama beberapa pihak ketiga dalam penyediaan tenaga instruktur diantaranya LKP Berkat Jaya, PKBM Amor Raya, Rika Hair Studio, CV. Gelukking Samen, LPK Etam Borneo dan LKP Noor Sandy.

Output dari pelaksanaan pelatihan kemandirian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif baik dari sisi perolehan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan menghasilkan WBP yang terampil.

Salah satunya Yazid, WBP tindak pidana narkotika yang pada tahun ini mengikuti kegiatan pelatihan barista.

"Alhamdulillah, dari pelatihan yang saya ikuti selain mendapatkan ilmu saya juga mendapat kepercayaan untuk bekerja di cafe kopi yang ada di dalam Lapas ini," tutupnya. (One)

Pasang Iklan
Top