• Rabu, 06 Juli 2022
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara




TENGGARONG (KutaiRaya.com) - Pesantren Taubatan Nasuha Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tenggarong terus berbenah baik dalam hal kurikulum maupun penyediaan sarana pembelajaran.

Hal ini bertujuan untuk mewujudkan cita-cita dari pendirian pesantren ini salah satunya ingin mencetak warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang mempunyai pemahaman ilmu keagamaan yang nanti sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.

"Program pesantren ini merupakan salah satu perwujudan dari tujuan pemasyarakatan yakni pulihnya hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan warga binaan saat kembali ke masyarakat nanti," ujar Ahmad Harnadi, Kepala Seksi Binapi sekaligus penanggung jawab program.

Salah satu program unggulan pesantren taubatan nasuha ini adalah program tahfidztahfidz, dari 98 WBP yang saat ini mengikuti program santri terdapat beberapa santri fokus secara rutin melakukan murojaah hafalan al Quran, salah satunya Apraja WBP tindakan pidana narkoba.

"Sejak awal saya jadi santri pesantren taubatan nasuha, keinginan untuk menghafal Al-Qur'an saya semakin kuat," ujar Apraja di sela-sela kegiatan pembelajaran.

WBP yang sudah mempunyai hafalan 3 juz ini setiap harinya selalu melakukan murajaah atau setor hafalan kepada guru pendamping yang telah ditunjuk.

"Semoga di bulan Maret nanti saya bisa ikut ujian tahfidz yang kedua kali dan bisa sampai 5 juz hafalannya," imbuhnya

Program tahfidz di pesantren taubatan nasuha selain mewajibkan santri untuk setoran hafalan setiap hari, diadakan juga ujian tahfidz yang dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun.

"Tujuan ujian tahfidz ini ingin mengetahui sejauh mana kemampuan santri dalam menghafal dan tidak sekedar jumlah hafalannya yang diperhatikan namun yang tidak kalah pentingnya adalah cara pengucapan/membaca Al-Quran tersebut," ujar Ahmad Harnadi.

Agus Dwirijanto, Kepala Lapas Kelas II A Tenggarong, mengungkapkan bahwa program pesantren ini merupakan inovasi program pembinaan, dengan keterbatasan lahan Lapas Kelas II A Tenggarong mencoba membuat terobosan baru.

"Program pesantren ini, bagi kami adalah modifikasi dari rehabilitasi sosial bagi WBP kasus Narkotika. Karena program rehabilitasi sosial membutuhkan ruang khusus dan lapas tenggarong memiliki keterbatasan ruang jadi kami coba modifikasi menjadi program pesantren," ujarnya

Agus Dwirijanto juga berkeinginan nanti saat ujian pertama tahfidz akan mengundang Kementerian Agama dan Lembaga Tahfidz Qur'an yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara.

"Tujuannya agar program ini semakin berkualitas baik dari segi hasil maupun program pembelajarannya," pungkasnya (One)

Pasang Iklan
Top