• Selasa, 21 September 2021
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



(Forum GPMP saat melakukan aksi di perairan Muara Badak tepatnya Desa Tanjung Limau)


KUKAR (KutaiRaya.com) - Pekerjaan pandu alam untuk kapal ponton pengangkut baru bara di perairan Kecamatan Muara Badak tepatnya di Desa Tanjung Limau sudah dilakukan masyarakat sekitar sejak turun temurun, bahkan saat ini ada Forum yang menaunginya yakni Forum Gerakan Pemuda Masyarakat Pangempang (GPMP) yang telah berdiri sejak dua tahun terakhir.

Untuk itu, ketika pekerjaan pandu alam ini diusik oleh kantor Unit Penyelenggaraan Pelabuhan (KUPP) Tanjung Santan yang menyerahkan kegiatan pandu ini kepada Pelindo IV mendapatkan reaksi dari masyarakat sekitar.

Ratusan warga yang tergabung dalam Forum GPMP ini melakukan aksi penolakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, di perairan Desa Tanjung Limau Muara Badak, Minggu (1/8/2021).

"Aksi hari ini kita lakukan karena adanya Pelindo masuk ditempat kami, karena selama ini pekerjaan pandu alam dikerjakan oleh masyarakat bahkan sejak nenek moyang kami untuk mencari nafkah, dan selama puluhan tahun pekerjaan kami ini tidak ada masalah, tetapi tiba-tiba ada penunjukan langsung oleh KUPP kepada Pelindo untuk kegiatan pandu ini, sehingga kami melakukan aksi ini untuk menolaknya," ungkap Ketua Umum Forum GPMP H. Sudirman.

Ia mengakui, sebenarnya telah ada pertemuan dengan KUPP dan Pelindo IV belum lama ini, tetapi hasilnya tidak ada sama sekali tawar menawar bahwa Pelindo sejak tanggal 1 Agustus 2021 sudah mulai masuk. Kami hanya meminta masyarakat kami ini dibina, dan bahkan jika disuruh bayar pajak maka kami juga akan membayar pajak.

"Kita ingin masyarakat kami dibina, kami ini warga asli disini masa cuma menjadi penonton dan orang luar yang menikmatinya," tuturnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat yang juga pengurus Forum GPMP Alimin mengatakan, masyarakat meminta agar kegiatan pandu ini betul-betul dinikmati dan dirasakan oleh masyarakat yang selama ini sudah berpuluh-puluh tahun melaksanakannya.

"Tetapi baru kali ini kita melakukan aksi menolak keras dengan adanya Pelindo yang mengambil alih daripada kegiatan pandu ini," ucapnya.

Terpisah, salah satu perwakilan ibu rumah tangga Nur, bahwa menurut kami jika nanti kegiatan ini diambil alih Pelindo secara keseluruhan tanpa melibatkan masyarakat sekitar yang sudah lama melakukan pekerjaan pandu alam ini maka dapur kami tidak dapat mengepul lagi, karena memang sebagian besar mata pencaharian masyarakat dari kegiatan ini.

"Kami juga berharap kepada pemerintah daerah semoga bisa melihat langsung aksi kali ini, betapa kami sebagai ibu-ibu rumah tangga disini telah meninggalkan aktifitas dirumah untuk melakukan aksi ini karena kami peduli kepada para suami kami yang kesehariannya mencari nafkah dari kegiatan pandu alam ini," harapnya. (One)

Pasang Iklan
Top