• Selasa, 24 November 2020
logo
Pasang Iklan



Saparudin Pabonglean.


TENGGARONG (KutaiRaya.com) - Hari Santri Nasional 2020 yang mana sudah dirayakan ke 5 kali bertepatan tanggal 22 Oktober sejak disahkan secara nasional dan negara pada tahun 2015 lalu oleh Presiden Jokowi di Masjid Istiqlal.

Namun, karena saat ini masih dilanda pandemi di seluruh negeri, para santri tidak dapat merayakannya hari Santri Nasional secara beramai untuk mencegah penyebaran virus.

Meskipun Hari Santri Nasional telah diperingati 22 Oktober 2020 lalu, tetapi menurut Anggota Komisi IV DPRD Kukar Saparuddin Pabonglean, peringatan tersebut harus kita maknai dengan meneladani spirit atau semangat para pejuang Kemerdekaan khususnya para Ulama dan Santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memberikan kontribusi terbaik kita dalam membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

"Tentu sesuai dengan profesi dan kemampuan kita masing-masing, terlebih di masa pandemi covid-19 yang masih melanda bangsa kita bahkan dunia saat ini. Kami juga menghimbau kepada semua pihak khususnya kepada yang berwenang agar pengakuan terhadap eksistensi Ulama dan Santri ini tidak hanya sekedar formalitas tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memberdayakan dan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada para Ulama dan Santri dalam membangun bangsa dan negara ini dalam arti luas, jangan lagi ada kriminalisasi terhadap para Ulama dan Santri, " terang politisi PKS tersebut.

Anggota DPRD Kukar dari Dapil Tenggarong ini menambahkan, Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober adalah momen yg sangat bersejarah bagi bangsa ini pada umumnya dan kaum santri dan ummat Islam pada khususnya.

"Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hari santri diambil dari sebuah peristiwa sejarah yang syarat dengan makna dan pelajaran atau ibro yang patut diteladani dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara yaitu terbitnya Resolusi, Fatwa Jihad atau perang melawan penjajah paskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan oleh KH. Hasyim Asy'ari yang didukung oleh para Ulama lainnya seperti KH. Ahmad Dahlan, Raden HOS. Cokroaminoto dan lainnya pada tanggal 22 Oktober 1945, " ungkapnya.

Peringatan hari Santri Nasional ini lanjutnya, merupakan pengakuan terhadap eksistensi para Ulama dan Santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai kapanpun. (One/adv)

Pasang Iklan Disini
Top